TAHUN BARU HIJRIAH

DISAAT MUHARAM MULAI DILUPAKAN…

Inilah tahun baru ummat Islam. Dari sinilah pergiliran waktu dimulai setiap tahunnya sebagai kebanggaan milik ummat Islam. Sementara ini kita mungkin lebih mengenal tahun masehi atau bulan-bulan miladiyah di dalamnya (Januari – Desember ) dari pada tahun hijriyah atau bulan-bulan qomariyah di dalamnya (Muharrom-Dzulhijjah).

Seyogyanya setiap orang bangga dengan miliknya sendiri, bukan dengan milik orang lain. Penanggalan hijriyah ini merupakan satu di antara sekian banyak khazanah ummat Islam yang ditinggalkan pemeluknya sendiri “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah 12 bulan dalam ketetapan (Kitab) Allah, sejak hari Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya terdapat empat bulan hurum…” (Q.S. At Taubah : 36)

Dua belas bulan tersebut adalah:
1. Muharrom
2. Shafar
3. Robi’ul Awwal
4. Robi’ul Akhir
5. Jumadil Awwal
6. Jumadil Akhir
7. Rajab
8. Sya’ban
9. Romadlon
10.Syawal
11.Dzul Qa’dah
12.Dzul Hijjah

MENGAPA TAHUN HIJRIYAH KURANG POPULER DI KALANGAN UMMAT ISLAM SENDIRI?
Idealnya ummat Islam mengetahui, hafal berikut tahu tanggal setiap harinya. Kalau kita perhatikan, ada beberapa faktor mengapa tahun masehi lebih populer dari pada tahun hijriyah:
1. ‘Konspirasi’ Internasional
Dipakainya tahun masehi dan bulan-bulan miladiyah di dalamnya sebagai standard internasional tidak terlepas dari kenyataan bahwa sekarang ini barat sedang menguasai dunia dalam segala bidang. Ummat islam, sadar maupun tidak harus mengikutinya. Ia dipakai di semua sektor kehidupan manusia; lembaga-lembaga pemerintah maupun swasta, bidang perekonomian, bisnis, dsb. Ini menunjukkan bahwa kekuasaan dunia sekarang memang sedang berada di tangan mereka, sementara ummat islam lebih banyak berperan sebagai penonton ketimbang pelaku. Sepintas seakan tidak ada korelasi antara keduanya, namun jika kita teliti lebih jauh semua bermuara ke arah sana. Kondisi ini memaksa ummat islam mengikuti sistem yang ada yang dengan perlahan namun pasti berubah menjadi tradisi dalam kehidupan ummat islam sendiri dankemudian menanggalkan miliknya sendiri. Di sinilah hukum sosial (sunnatullah atas masyarakat) berlaku yang kalah akan mengikuti yang menang dan sebaliknya.

2. Inferiority complex
Identitas ‘simbol-simbol’ addien (agama) mulai luntur dari pemeluknya sendiri dan lebih senang berbaur dengan memakai identitas orang lain. Ummat Islam kebanyakan tidak berani menampakkan jati dirinya sebagai pemeluk agama islam. Sudah tipis kalau tidak disebut tidak ada lagi rasa bangga dengan agamanya. Memang, penyakit inferiority complex ini semakin banyak mewabah seiring dengan lemahnya posisi ummat islam dalam percaturan politik internasional. Istilah-istilah dalam khazanah keislaman termasuk masalah tahun hijriyah dan bulan-bulan qamariyah di dalamnya ini merupakan sebagian kecil identitas kita yang mulai dilupakan. Memang ini bukan hal yang paling prinsip, tetapi apa pun yang namanya identitas itu jelas perlu. Hal lain yang perlu kami singgung di sini dalam kaitannya dengan masalah identitas ini adalah bahwa sebagian kita merasa malu kalau terlihat membawa kitab sucinya ke tempat pengajian (mungkin karena tidak bisa membacanya), malu menutup auratnya (baca: jilbab), malu jika tidak punya pasangan (baca: pacar) karena dianggap tidak laku, dsb. Perasaan malu atau minder dalam menampilkan identitas keislamannya bisa jadi disebabkan karena ia memang pada banyak segi tidak siap untuk dikatakan sebagai muslim yang sebenarnya karena melihat dirinya sendiri yang sering melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama atau sering meninggalkan perintah agama.Mumpung masih muda, begitu mungkin ujarnya. Dan sesungguhnya (ternyata) akar masalah tersebut adalah masalah keimanan. Kondisi ini diperparah dengan image masyarakat bahwa seorang muslim yang berani menampakkan jati dirinya sering dianggap kolot, kampungan, out-of date dan sebutan-sebutan lain yang mengarah pada sebuah penilaian bahwa identitas islam (kembali) terasa asing untuk ditampilkan bukan hanya bagi/dalam kalangan non islam, melainkan juga bagi pemeluknya sendiri. Maka, benarlah sebuah gejala masyarakat yang pernah diprediksi olehRosulullah SAW bahwa: “Islam bermula datang dalam keadaan asing dan (suatu saat nanti) akan kembali asing seperti semula. Maka berbahagialah orang-orang yang asing tersebut” (HR. Thabrani).

3. Pendidikan agama
Bagaimanapun orang tua memainkan peranan terpenting dalam turut mencetak ‘corak warna’ bagi putra-puterinya kelak, memberikan pendidikan dan pemahaman agama sejak dini. Tetapi sayangnya saat ini orang tua sudah jarang yang memperhatikan masalah ini. Bagaimana mereka akan mampu memberikan pendidikan agama sejak dini kepada putera-puterinya, lha wong mereka sendiri juga punya masalah yang sama, mereka juga banyak yang buta pemahamannya dalam masalah agama. Oleh karena itu tugas ini sesungguhnya menjadi PR bagi generasi selanjutnya, ya.. kita semua dan anak-cucu kita. Kesempatan yang masih ada sebelum kemudian kita disibukkan setelah menjadi Bapak/ Ibu bagi putera puteri kita nanti marilah kita pergunakan untuk menimba ilmu agama dengan sebaik-baiknya. Dunia kerja bukanlah alasan bagi terhentinya menuntut ilmu. Insya Allah masih banyak waktu luang yang bisa kita pergunakan untuk itu. Sepulang dari kerja, atau saat liburan adalah waktu-waktu yang bisa kita pergunakan, jangan hanya dipakai untuk hal-hal yang tidak bermanfaat semisal nonton TV terus, atau ngerumpi dsb. Mari kita isi dengan belajar, membaca buku-buku, mengaji, dsb. Sarana untuk itu telah ada. Perpustakaan masih kurang pembacanya. Orang tua kita yang mungkin tidak sempat memberikan pendidikan secara optimal janganlah kita jadikan kambing hitam sementara diri kita memang malas dan sering membantah nasehat mereka.

4. Lingkungan
Lingkungan sangat kuat pengaruhnya dalam membentuk identitas pribadi seseorang. Lingkungan yang biasa tidak memperhatikan identitas Islam akan cenderung mewarnai komunitas di dalamnya dengan identitas yang bukan Islami pula.

DAMPAK DITINGGALKANNYA PENGGUNAAN TAHUN HIJRIYAH
Minimnya perhatian kaum muslimin terhadap bulan Hijriyah ini seakan tampak sebagai hal yang sepele. Tetapi kalau kita ikuti dengan seksama hal ini dapat menimbulkan hal-hal yang yang tidak remeh. Ekses yang bisa timbul di antaranya adalah:
1. Hilangnya Identitas Islam
Ini jelas sekali terasa sekarang ini. Ummat Islam lebih suka meniru identitas ‘Barat’ yang terbukti banyak merusak. Padahal Rasulullah SAW selalu berpesan agar kaum muslimin berbeda dengan orang-orang yahudi dannasrani dalam segala hal sebagaimana disebutkan dalam banyak riwayat, di antaranya.Berbedalah kalian dengan orang – orang Yahudi.’ (HR. Ahmad).
Akibat yang lebih kentara dalam fakta sekarang adalah bahwa kaum muslimin sering ikut-ikutan dalam perayaan-perayaan tahun masehi yang diisi dengan kegiatan-kegiatan yang merugikan. Pada malam tahun baru masehi dunia serentak menggelar acara-acara heboh seperti : mengunjungi tempat-tempat hiburan (baca: maksiat), diskotik, pagelaran musik semalam suntuk, dll. Padahal jelas aktifitas semacam ini sangat bertentangan dengan ajaran agama islam. Yang lebih mengherankan lagi mereka bukan saja menjadi objek dalam acara-acara tersebut, melainkan juga menjadi subyek. Kalangan artis muslim –yang memang setiap harinya bergelimang dengan acara-acara sejenis– pada musim tahun baru lebih-lebih dijadikan sebagai lahan subur dalam menuai rezeki. Dari sudut pandang aktifitasnya jelas mengandung maksiat yang nyata, dan dari segi penggunaan harta, mereka telah menghambur-hamburkan uang, berlebih-lebihan yang juga bertentangan dengan ajaran islam apalagi dalam kondisi krismon sekarang ini.

2. Ditinggalkannya Sunnah-sunnah Rasul
Lunturnya pemahaman kaum muslimin terhadap bulan-bulan Qomariyah dalam tahun Hijriyah, diikuti dengan ditinggalkannya sunnah-sunnah Rasulullah SAW dalam menilai dan memanfaatkan waktu-waktu tertentu dalam hitungan Qomariyah Hijriyah sebagai eksesnya.
Dalam skala tahun, ada bulan Ramadlan sebagai bulan yang paling utama dan di dalamnya terdapat Lailatul-Qadar sebagai malam paling utama yang nilainya lebih baik dari seribu bulan (QS. 97: 1-5). Dalam skala tahun juga terdapat 4 bulan sebagai bulan ‘Hurum’ (kata hurum adalah bentuk jamak dari kata haram). Maksudnya adalah bahwa pada bulan-bulan tersebut Diharamkan melakukan peperangan dan atau mendholimi diri sendiri. Keterangan ini sebagimana kelanjutan dari potongan ayat ke-36 dari surah At-Taubah ..Maka janganlah kalian berbuat dholim terhadap diri kalian…. Sedangkan bulan harum tersebut yaitu Muharram, Rajab, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah. Dalam skala bulan terdapat beberapa hari utama misalnya setiap tanggal 13, 14, 15 di mana kita disunnahkan berpuasa. Demikian pula puasa sunnah dianjurkan pada tanggal 10 Muharrom (hari ‘asyura’), 6 hari di bulan Syawal, tanggal 10 Dzul Hijjah (hari Arafah), dsb. Dalam seminggu ada hari Jum’at sebagai hari paling mulia kaum muslimin berkumpul untuk melaksanakan sholat Jum’at-, hari Senin dan Kamis yang disunnahkan berpuasa. Kemudian dalam sehari semalam ada waktu-waktu utama misalnya sepertiga malam terakhir yang dianjurkan untuk menghidupkannya dengan qiyamul-lail. Dalam waktu-waktu utama itu kita dianjurkan untuk lebih memperhatikan amalan-amalan yang disunnahkan.
Semua amal yang harus diperhatikan di atas terkait dengan hitungan waktu dalam tahun Hijriah atau bulan Qomariyah, bukan dalam tahun masehi/bulan miladiyah.
Ternyata kurangnya perhatian terhadap Tahun Hijriyah/bulan Qomariyah bukan saja menghilangkan salah satu identitas ‘simbol’ agama tetapi juga mempengaruhi perhatian terhadap amal-amal yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW.

MENGHAPUS MITOS SEPUTAR MUHARROM
Sudah menjadi ‘keyakinan’ bagi masyarakat Indonesia Jawa khususnya bahwa bulan Muharrom adalah bulan kramat. Pada hari tanggal 1 misalnya, mereka menghentikan aktifitas aktifitas yang bersifat hajatan besar, menghindari perjalanan jauh, sebab hari itu mereka anggap sebagai hari naas atau sial. Bulan itu juga mereka takuti bagi pasangan yang hendak merencanakan pernikahan. Oleh karenanya mereka sangat menghindarinya dan memilih pernikahan dilaksanakan pada bulan-bulan lain. Pasalnya, pernikahan yang dilangsungkan pada bulan Muharram kerap mendatangkan sial bagi pasangan selanjutnya, seperti perceraian, kematian, tidak harmonis, dililit utang, dsb. Budaya ini sudah mengakar sebagai warisan nenek moyang kita. Kami tidak tahu secara pasti dari mana ini sumbernya, tetapi mungkin saja sebagai pengaruh asimilasi budaya Hindu dan Islam yang ketika berbaur memunculkan isme baru yaitu paham kejawen.
Sementara itu dari luar Indonesia mitos ini juga dianut oleh aliran kepercayaan Bani Fathimiyah di Mesir. Demikian pula oleh kalangan syi’ah yang menganggap naas bulan ini karena dalam sejarah, Al-Husain Bin Ali RA wafat pada bulan tersebut. Mereka kemudian menjadikan bulan Muharrom sebagai bulan duka cita . Kami tidak tahu apakah para pembaca sekalian juga meyakini mitos semacam ini. Tetapi ketahuilah bahwa ini semua adalah batil, tidak sesuai dengan ajaran islam, bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mengkambinghitamkan waktu sebagai penyebab kesialan suatu usaha, sesungguhnya sudah menjadi mitos bagi masyarakat arab di zaman Rasulullah. Mereka (orang-orang Arab di masa Rasul) sering berkumpul di waktu ashar untuk berbincang-bincang tentang berbagai hal dan terkadang dalam perbincangan mereka terlontar ucapan-ucapan yang mempersalahkan waktu sebagai penyebab kesialan usaha mereka. Waktu sial, demikian mereka ucapkan ketika urusan/usahanya gagal atau waktu mujur ketika usahanya berhasil. Sehingga mereka menghindari waktu-waktu tertentu yang mereka anggap waktu sial tersebut dari melakukan aktifitas yang semestinya. Terhadap mitos inilah maka Allah SWT menegaskan bahwa apa yang mereka yakini tersebut tidak benar, artinya tidak ada waktu naas maupun waktu keberuntungan. Hasil dari sebuah aktifitas adalah tergantung dari usahanya (dengan izin Allah). Semua berjalan mengikuti hukum Allah / sunnatullah. Untuk itulah Allah SWT berfirman : ‘Demi waktu (‘Ashar). Sesungguhnya manusia tetap berada dalam kerugian. Kecuali orang – orang yang beriman dan beramal shalih dan saling menasehati atas kebenaran dan atas kesabaran ‘ . (QS Al- ‘Ashr : 1-3).
Melalui surah ini maka Allah bersumpah demi waktu (ashar) untuk membantah anggapan mereka itu dan menegaskan bahwa tidak ada yang namanya waktu sial atau waktu mujur, semua waktu itu sama. Yang berpengaruh adalah kebaikan atau keburukan usaha seseorang dan inilah yang berperan dalam hasil akhir sebuah usaha. Manusia akan beruntung jika ia mengisi waktu-waktunya dengan penuh iman, amal shalih dan taushiyah terhadap hak dan kesabaran. Maka mereka yang tidak melakukan ini tidak mengisi waktu-waktunya dengan keempat kriteria tersebut pasti akan merugi. Apabila kita sekarang masih percaya terhadap mitos ini maupun mitos-mitos yang lainnya, bukankah pada sisi ini kita sama dengan atau mengikuti jejak mereka dulu, padahal islam telah datang dan menjelaskan yang haq. Jalan mana lagi yang hendak kita tempuh ? Semoga hal ini menjadi bahan renungan bagi kita semua untuk selanjutnya menghapuskan mitos ini dari keyakinan kita sehingga akidah kita bersih, murni tidak tercampur dengan hal – hal yang batil. Dalam Surah Al-Baqarah: 42, Allah berfirman: ‘Dan janganlah kau mencampuradukkan antara yang haq dan batil dan menyembunyikan yang haq padahal kamu mengetahuinya (telah memperoleh informasi)’.

BATILNYA MITOS ATAS BEBERAPA TINJAUAN
Adanya mitos di masyarakat bahwa bulan muharrom sebagai bulan kramat terlebih pada tanggal 1 adalah batil baik ditinjau dari segi syariat ajaran islam, sejarah/sirah maupun secara rasional.

1. Tinjauan Syari’at
Dari segi syari’at bulan muharrom adalah bulan yang utama dan termasuk dalam golongan 4 bulan hurum. Disunnahkan untuk melakukan amal-amal sholih. Pada tanggal 9 (yaum tasu’a’) dan lebih diutamakan- 10 (yaum ‘asyuro’) disunnahkan puasa. Sedangkan yang dilarang oleh syariat adalah melakukan peperangan kecuali apabila ummat Islam diperangi dan perbuatan-perbuatan mendholimi diri sendiri. Tidak ada larangan melakukan aktifitas yang mubah apalagi bernuansa ibadah.

2. Tinjauan Sejarah
Pada bulan ini pula tepatnya tanggal 10 Nabi Musa AS selamat dari kejaran tentara Fir’aun. Konon, Nabi Nuh AS selamat dari banjir bersama kaumnya dan Nabi Yunus AS keluar (selamat) dari perut ikan hiu juga terjadi pada bulan ini. Jadi semua kisah ini menuturkan kisah-kisah suka-cita bukan duka cita. Karena pada bulan ini mereka mendapatkan anugerah yang sangat tinggi wajarlah jika kemudian kaum muslimin mensyukurinya dengan amal-amal sholih yang kemudian pada tanggal 10 Muharrom ummat Islam disunnahkan berpuasa. Adapun disunnahkannya berpuasa pada hari itu dalam latarbelakangnya adalah peristiwa pertama di atas (Nabi Musa red). Ketika Rasulullah kembali ke Madinah, Beliau mendapatkan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura’. Maka beliau bertanya kepada mereka Hari apa ini yang kalian sekarang sedang berpuasa ?Maka mereka menjawab Hari ini adalah hari yang agung di mana Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa bersama kaumnya serta menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya maka Nabi Musa berpuasa pada hari itu untuk menyukurinya, kemudian kami mengikutinya. Maka Rasulullah bersabda Kami lebih berhak dan lebih utama terhadap Musa dari pada kalian Kemudian beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa pula (Hadits Shohih riwayat Bukhori Muslim dari Ibnu Abbas sebagaimana dikutip dalam Irsyadul Ibad hal. 48-49 juga dalam Hadyul Islam jilid I Hal. 504-505. Sedangkan Al-Albani memasukkannya dalam kumpulan hadits dhaifnya, wallohu a’lam).

3. Tinjauan Produktifitas Amal
Secara rasional, tidak dipergunakannya sebuah hari lebih-lebih sebulan untuk melakukan aktifitas sebagaimana layaknya, tentu akan mengurangi produktifitas kerja atau amal. Ketika pada hari itu semestinya bisa dimanfaatkan misalnya untuk melakukan perjalanan pulang kampung, atau berangkat ke tempat kerja/pendidikan atau untuk silaturrahim atau hal-hal lain yang sangat bermanfaat maka semuanya harus ditunda besok harinya atau harus buru-buru dilakukan sehari sebelumnya. Masyarakat cenderung memahami sial/na’asnya suatu usaha hanya pada masalah-masalah duniawiyah. Takut kecelakaan, takut bangkrut, takut miskin dan takut mati. Ini menunjukkan bahwa orientasi kerja mereka hanya semata-mata hasil yang bagus sementara mereka tidak siap untuk menerima kerugian apalagi sampai pada tingkat kematian karena mereka memang tidak cukup bekal amal untuk itu. Padahal semua manusia pasti mengalaminya. Dan yang jelas waktunya tidak mesti pada bulan muharrom melainkan di semua bulan tersebut manusia bisa mendapatkan keberuntungan maupun kerugian. Tidak ada satu pun penelelitian yang menghasilkan data bahwa pada bulan muharrom angka kecelakaan meningkat, ratio kematian paling tinggi, kasus perceraian paling banyak, dsb. Apakah dengan menghindari bulan ini dari melakukan aktifitas tertentu lantas dijamin bebas dari masalah ? Tentu tidak jawabannya, sekali lagi semua tergantung dari usahanya bukan waktu na’as/mujurnya.

Saudaraku, Sebagai renungan dalam momen tahun baru ini marilah kita muhasabah kembali segala apa yang telah kita lakukan pada tahun kemarin terutama jika pada tahun lalu kita masih memiliki mitos sebagaimana diatas, maka mulai tahun ini marilah kita buang jauh-jauh itu semua sebagai bentuk komitmen kita untuk selalu melakukan perbaikan demi perbaikan setiap saat terutama terhadap keimanan dan amal kita. Tahun ini harus lebih baik dari tahun kemarin. Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dan hendaknya setiap diri melakukan introspeksi terhadap apa yang telah lampau untuk (dilakukan perbaikan) di hari esok, Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kalian kerjakan (QS. 59: 18). Wallahu a’lam bishowab. [JS] [Edisi cetak No.16/Thn-8/2008]

Iklan

3 Responses to TAHUN BARU HIJRIAH

  1. aladalah berkata:

    Silahkan memberikan tanggapan atas artikel ini.
    Terima Kasih.

  2. Mas Joko berkata:

    Assalamualaikum wr wb

    Ini merupakan hal yang sangat menyedihkan karena ummat islam lebih akrab dengan tahun masehi daripada tahun hijriyah, hal-hal yang perlu dilakukan diantaranya :
    1. Menyadarkan ummat islam tentang hal tersebut, perlu adanya dakwah yang berkesinambungan
    2. Membuat program kegiatan untuk mengisi tahun baru Islam dengan kegiatan yang bersifat syiar dengan didukung media massa untuk mempublikasikan
    Mudah2an dengan 2 langkah tersebut diatas dapat menjadi batu loncatan untuk mengenalkan dan menyemarakkan tahun baru Islam sebagai tahun baru bagi Ummat Islam.

    wallahu a’lam bishawab

    Wassalamualaikum wr wb

  3. Isna Amamah berkata:

    smoga smua ini bs jd renungan qt smua sbagai umat islam….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: