<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Al 'adalah</title>
	<atom:link href="http://aladalah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aladalah.wordpress.com</link>
	<description>"Adil Itu Lebih Dekat Kepada Taqwa"</description>
	<lastBuildDate>Sat, 26 Nov 2011 03:59:46 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='aladalah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Al 'adalah</title>
		<link>http://aladalah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://aladalah.wordpress.com/osd.xml" title="Al &#039;adalah" />
	<atom:link rel='hub' href='http://aladalah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Hindari Bermajlis Istihza`!</title>
		<link>http://aladalah.wordpress.com/2008/07/05/hindari-bermajlis-istihza/</link>
		<comments>http://aladalah.wordpress.com/2008/07/05/hindari-bermajlis-istihza/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 09:01:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>al 'adalah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aladalah.wordpress.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[Virus mengerikan telah menjalar ke seluruh tubuh ummat islam, ada kalanya hal tersebut mampu mendatangkan kebaikan dan yang pasti adalah akan membawa dampak buruk yang sangat berbahaya bagi kaum muslimin. Virus tersebut menyebar melalui salah satu makhluk yang sangat kecil, yakni lidah yang tak bertulang. Melalui makhluk kecil mungil ini seseorang akan menjadi tinggi dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aladalah.wordpress.com&amp;blog=2701782&amp;post=33&amp;subd=aladalah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Virus mengerikan telah menjalar ke seluruh tubuh ummat islam, ada kalanya hal tersebut mampu mendatangkan kebaikan dan yang pasti adalah akan membawa dampak buruk yang sangat berbahaya bagi kaum muslimin. Virus tersebut menyebar melalui salah satu makhluk yang sangat kecil, yakni lidah yang tak bertulang. Melalui makhluk kecil mungil ini seseorang akan menjadi tinggi dan mulia derajatnya atau menjadi hina dan rendah serendah-rendahnya. Dengan sebab itu pulalah seseorang akan menjadi celaka atau selamat. Ahli hikmah menyebutkan : &#8220;keselamatan seorang insan adalah tergantung bagaimana ia menjaga lisannya&#8221;.<br />
Di sebagian tempat-tempat berkumpul, majlis-majlis ta`lim, halaqoh-halaqoh ataupun di warung-warung kopi terkadang mudah sekali mereka mempergunakan lisan untuk hal-hal yang sangat buruk dan sesuatu yang diharamkan. Bahkan sampai-sampai kepada ucapan-ucapan yang mengakibatkan pelakunya terjerumus dalam kekufuran seperti ghibah, berdusta, memfitnah, menafsirkan ayat-ayat Allah subhanahu wata&#8217;aala ataupun hadits-hadits nabi shallallahu &#8216;alahi wasallam dengan tanpa didasari oleh ilmu yang benar dan tidak hanya itu saja, sampai-sampai kepada &#8220;istihzaa`&#8221; atau menghina, mencela dan merendahkan Allah subhanahu wata&#8217;aala, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya tidak lain itu semua berangkat dari niat yang jahat, hati yang sakit dan lemahnya agama yang dimiliki. Allah subhanahu wata&#8217;aala berfirman, &#8220;Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan).&#8221; (QS. al-Hujurat : 11). Makna &#8216;as-Sukhriyyah&#8217; dalam ayat tersebut adalah menghina, merendahkan dan memberitahukan aib dan kekurangan-kekurangannya, terkadang dengan meniru atau mempraktekan melalui perbuatan dan ucapan, terkadang dengan isyarat atau gaya yang betujuan menghinanya.<br />
Dan diantara bentuk &#8216;istihzaa&#8217; atau penghinaan yang paling dahsyat dan sangat berbahaya adalah: <span id="more-33"></span>menghina agama dan pelakunya. Hal tersebut merupakan perkara yang sangat berbahaya, sehingga para Ulama telah bersepakat bahwa &#8220;istihzaa` (menghina) Allah subhanahu wata&#8217;aala, agama-Nya dan Rasul-Nya merupakan sebuah kekufuran yang nyata dan yang menyebabkan pelakunya keluar dari islam secara menyeluruh&#8221;. Syaikhul Islam Ibn Taimiyah berkata: &#8220;Sesungguhnya menghina Allah subhanahu wata&#8217;aala, ayat-ayat, dan rasul-Nya adalah kekufuran yang pelakunya menjadi kafir setelah ia beriman&#8221;.<br />
Ironinya penyakit &#8216;istihzaa` dan sukhriyyah&#8217; ini telah menjadi &#8216;seni&#8217; bagi mereka, sehingga kita dapati berbagai macam bentuk istihza`yang mereka lakukan. Diantara mereka ada yang menghina jilbab/hijab (dengan mengatakan ini adalah adat istiadat Arab kuno/tempo dulu). Juga ada yang mencela bahwa pelaksanaan hukum syar`i (sudah tidak relevan lagi). Dan bagi mereka yang menyerukan amar ma`ruf dan nahi mungkar tidak lepas dari hinaan dan celaan dari &#8216;lisan ganas&#8217; mereka. Celaan juga mereka lakukan terhadap sunnah-sunnah rasulullah shallallahu &#8216;alahi wasallam seperti jenggot yang dipanjangkan, celana yang dipendekkan ataupun yang lainnya.<br />
Dalam hal ini &#8220;al-Lajnah ad-Da`imah&#8221; berfatwa menjawab pertanyaan seputar orang yang berkata kepada saudaranya: &#8220;Wahai Jenggot&#8221; dengan maksud menghina, maka dijawab: &#8220;Sesungguhnya istihzaa` (menghina) jenggot merupakan sebuah kemungkaran yang besar. Ucapan &#8216;wahai jenggot&#8217; dengan maksud merendahkan dan menghina adalah kufur, dan apabila hanya bermaksud sebagai pengenal maka bukanlah kekufuran. Hanya saja panggilan seperti itu tidaklah sepatutnya untuk dilakukan.<br />
Ketahuilah bahwa istihzaa` adalah sesuatu yang sangat membahayakan bagi agama seseorang, firman Allah subhanahu wata&#8217;aala : &#8220;Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: &#8216;Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja&#8217;. Katakanlah: &#8216;Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?&#8217;. Tidak usah kamu minta maaf karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan daripada (kamu lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.&#8221; (QS. at-Taubah : 65-66).<br />
Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang munafiq yang berkata (tentang Rasulullah shallallahu &#8216;alahi wasallam dan para sahabatnya),  ia berkata: tidaklah kami melihat para Qurra` (ahli membaca al-qur`an) kita, kecuali mereka adalah orang-orang yang buncit perutnya, pendusta, dan pengecut&#8221;.  Kemudian hal itu di sampaikan kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alahi wasallam, lalu orang munafik tersebut datang kepada rasulullah shallallahu &#8216;alahi wasallam, ketika itu beliau telah menaiki untanya lalu melanjutkan perjalanan. Sambil berlari-lari orang tersebut memanggil-manggil Rasulullah shallallahu &#8216;alahi wasallam dan berkata, &#8220;Wahai Rasulullah shallallahu alahi wasallam sesungguhnya kami hanya bermain-main dan bersenda gurau, lalu rasulullah shallallahu &#8216;alahi wasallam bersabda, (dengan membaca ayat) yang artinya: &#8220;Apakah dengan Allah , ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.&#8221; (QS. at-Taubah: 65-66). Sampai-sampai kedua kaki orang tersebut tersandung-sandung batu dan tidak sedikitpun Rasulullah shallallahu &#8216;alahi wasallam menghiraukannya sedangkan orang itu bergelayutan di tali pelana unta rasulullah shallallahu &#8216;alahi wasallam.</p>
<p>Sudah sangat maklum dalam sirah Rasul bahwa beliau adalah orang yang paling sayang kepada umatnya. Sangat mudah menerima udzur (alasan) apabila mereka salah dan minta dimaafkan. Kendatipun demikian, beliau tidak menerima permintaan maaf dari orang-orang yang menghina Allah subhanahu wata&#8217;aala, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya, demikianlah&#8230; alangkah besarnya dosa istihzaa` tersebut sampai-sampai Allah subhanahu wata&#8217;aala berfirman: &#8220;Kamu telah<br />
kafir sesudah beriman&#8221;. Naudzubillah mindzalik.<br />
Ibnul-Jauzi berkata dalam &#8216;Zaadul- Masiir&#8217;: &#8220;Hal ini menunjukkan bahwa sungguh-sungguh dan bermain-main dalam menampakkan kata-kata kekufuran adalah sama.”<br />
Dan Syaikh as-Sa`di berkata: &#8220;Sesungguhnya menghina Allah subhanahu wata’aala dan rasul-Nya adalah sebuah kekufuran yang dapat mengeluarkan pelakunya dari agama islam (menjadi kafir) karena dasar pokok agama ini dibangun di atas pengagungan kepada Allah subhanahu wata&#8217;aala, agama Islam dan Rasul-Nya. Dan istihzaa` terhadap hal tersebut berarti ia telah menghapus dan membatalkan dasar pokok agama tersebut&#8221;.<br />
Demikian pula Syaikh Muhammad Bin Ibrahim berkata: &#8220;Sebagian orang ada yang kerjaannya mencari-cari kesalahan para Ahli Ilmu apakah ia pernah bertemu ataupun belum pernah bertemu mereka, seperti ucapannya: &#8220;si fulan itu begini dan begitu (kelompok dakwah itu begini dan begitu)&#8221;. Hal-hal seperti ini dikhawatirkan pelakunya akan menjadi murtad. Dan tidaklah ia mencela mereka kecuali karena mereka adalah orang-orang yang taat&#8221;.<br />
Allah subhanahu wata&#8217;aala berfirman yang artinya, &#8221; Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia<br />
dari pada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.&#8221; (QS. al-Baqarah: 212).<br />
Dan sebagian dari mereka ada yang memungkiri ketika dikatakan kepadanya: ucapanmu adalah termasuk istihzaa` (menghina) agama&#8221;, lalu ia mengatakan, kami tidaklah bermaksud menghina agama, tidak pula kepada pribadi seseorang, akan tetapi kami hanyalah bercanda dan bergurau&#8221;. Dan dia tidak faham akibat dari gurauan dan candaan semacam itu. Sungguh hal itu adalah sebuah kehinaan dan kebinasaan di dunia, bencana dan adzab yang pedih di akhirat. Allah subhanahu wata&#8217;aala berfirman, artinya, &#8220;Tinggallah dengan hina didalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku. Sesunguhnya ada segolongan dari hamba-hamba-Ku berdoa (di dunia) ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat yang paling baik. Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan, sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku, dan adalah kamu selalu mentertawakan mereka, sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka di hari ini, karena kesabaran mereka; sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang.&#8221;(QS. al-Mukminun: 108-111).<br />
Ejekan dan hinaan kepada orang biasa (orang pada umumnya) adalah sebuah perbuatan yang menyakitkan dan permusuhan. Lebih-lebih jika hal itu ditujukan kepada orang-orang yang beriman, kepada orang-orang yang &#8216;iltizam&#8217; (selalu menghidupkan sunnah-sunnah Rasul). Dalam hal ini Allah subhanahu wata&#8217;aala berfirman: &#8220;Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.&#8221; (QS. al-Ahzab: 58).<br />
Saudaraku berhati-hatilah, jauhilah oleh kalian duduk-duduk di tempat-tempat yang di dalamnya terdapat maksiat kepada Allah subhanahu wata&#8217;aala, janganlah bergabung bersama mereka. Janganlah dekat-dekat dengan mereka. Maksiat adalah bak penyakit kronis, virus yang ganas yang mudah sekali menular. Lebih-lebih jika engkau tidak memiliki kekebalan tubuh untuk menghalau dan membentenginya yaitu iman dan ilmu yang kokoh. Allah subhanahu wata&#8217;aala berfirman: &#8220;Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam al-Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam jahannam.&#8221; (QS. an-Nisa`: 140).<br />
Maka sebuah kewajiban bagi kita untuk mengingkari perbuatan maksiat yang kita temui sekuat tenaga dan kemampuan kita, menjauh dan mengelak dari perbuatan-perbuatan dosa tersebut. Ingat bahwa Allah subhanahu wata&#8217;aala senantiasa mengawasi gerak-gerik kita dan para malaikat selalu siap mencatat segala ucapan dan perbuatan kita. Berupayalah untuk selalu menjaga lisan karena lisan tidak bertulang, mudah terpeleset dan jatuh kedalam kebinasaan dan kecelakaan. Mudah-mudahan Allah subhanahu wata&#8217;aala senantiasa membersihkan dan mensucikan lisan dan pendengaran kita dari segala noda dan keburukan. Wallahul Musta`an.</p>
<p>Sumber:<br />
Disadur dari risalah &#8220;Falaa Taq`uduu Ma`ahum&#8221;,  Abdul Malik al-Qosim.<br />
Oleh: Andri Abdul Halim Abu Thalhah<br />
www.alsofwah.or.id<br />
<span style="color:#008000;">Edisi Cetak No. 25/Thn-8/2008  | 23 Jumadil Akhir 1429 H</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aladalah.wordpress.com/33/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aladalah.wordpress.com/33/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aladalah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aladalah.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aladalah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aladalah.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aladalah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aladalah.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aladalah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aladalah.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aladalah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aladalah.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aladalah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aladalah.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aladalah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aladalah.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aladalah.wordpress.com&amp;blog=2701782&amp;post=33&amp;subd=aladalah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aladalah.wordpress.com/2008/07/05/hindari-bermajlis-istihza/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a6a1607ec1e30d207c5310b51b58ae81?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">al &#039;adalah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Makna Nabi Muhammad saw Sebagai Penutup Para Nabi</title>
		<link>http://aladalah.wordpress.com/2008/07/05/makna-nabi-muhammad-saw-sebagai-penutup-para-nabi/</link>
		<comments>http://aladalah.wordpress.com/2008/07/05/makna-nabi-muhammad-saw-sebagai-penutup-para-nabi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 08:58:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>al 'adalah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aladalah.wordpress.com/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[Definisi Nabi Terakhir mengandung unsur-unsur yang harus diimani, yaitu: 1. Menghapus Risalah sebelumnya Risalah sebelumnya adalah semua kitab dan hukum yang pernah diturunkan oleh Allah swt. kepada para nabi dan dikabarkan oleh Allah swt. di dalam Al-Qur&#8217;an maupun di dalam As-Sunnah yang shahih, yaitu Shuhuf (lembaran) yang diturunkan kepada Ibrahim a.s. [lihat QS. Al-A'laa (87): [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aladalah.wordpress.com&amp;blog=2701782&amp;post=32&amp;subd=aladalah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Definisi Nabi Terakhir mengandung unsur-unsur yang harus diimani, yaitu:</p>
<p>1. Menghapus Risalah sebelumnya</p>
<p>Risalah sebelumnya adalah semua kitab dan hukum yang pernah diturunkan oleh Allah swt. kepada para nabi dan dikabarkan oleh Allah swt. di dalam Al-Qur&#8217;an maupun di dalam As-Sunnah yang shahih, yaitu Shuhuf (lembaran) yang diturunkan kepada Ibrahim a.s. [lihat QS. Al-A'laa (87): 14-19 dan An-Najm (53): 36-42], Shuhuf yang diturunkan kepada Musa a.s. [lihat QS. Al-A'laa (87): 14-19 dan An-Najm (53): 36-42], Taurat yang diturunkan kepada Musa a.s. (lihat QS. Al-Baqarah (2): 53, Ali Imran (3): 3, Al-Maidah (5): 44, dan Al-An&#8217;am (6): 91], Zabur yang diturunkan kepada Daud a.s. [lihat QS. An-Nisa' (4): 164, Al-Kahfi (18): 55, dan Al-Anbiya' (21): 105], dan Injil yang diturunkan kepada Isa a.s. [lihat QS. Ali Imran (3): 3 dan Al-Mai'dah (5): 46].</p>
<p>Semua kitab-kitab tersebut hukumnya telah di-nasakh (dihapuskan) oleh Al-Qur&#8217;an, kecuali beberapa hukum dan kisah. Dan semua yang belum<br />
di-nasakh tersebut disebutkan secara jelas dalam Al-Qur&#8217;an ataupun Al-Hadits</p>
<p>2.  Membenarkan Para Nabi Sebelumnya<span id="more-32"></span></p>
<p>&#8220;Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (Kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah ke belakang (punggung)nya, seolah-olah mereka tidak me-<br />
ngetahui (bahwa itu adalah kitab Allah).&#8221;<br />
[QS. Al-Baqarah (2): 101]</p>
<p>Membenarkan para nabi sebelumnya,<br />
maksudnya bahwa Islam melalui<br />
kitabnya, yaitu Al-Qur&#8217;an, membenarkan keberadaan para nabi yang ada sebelum Nabi Muhammad saw. dan meyakini bahwa Allah swt. menurunkan kitab-kitab kepada para nabi tersebut. Kita pun membenarkan seluruh berita yang ada dalam semua Kitab-kitab tersebut adalah dari Allah swt., selain yang telah diselewengkan dan diubah oleh para ahli kitab; serta mengerjakan semua hukumnya kalau ada yang belum di-nasakh (dihapuskan) oleh Al-Qur&#8217;an.</p>
<p>Katakanlah: &#8220;Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur&#8217;an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. [QS. Al-Baqarah<br />
(2): 97]</p>
<p>&#8220;Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur&#8217;an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap Kitab-Kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.&#8221; [QS. Al-Maidah (5): 48]</p>
<p>3.  Penyempurna Risalah Sebelumnya.<br />
&#8220;Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu.&#8221; [QS. Al-Maidah (5): 3]</p>
<p>Bahwa Islam adalah agama terakhir, maka nabinya pun adalah nabi penutup, sehingga kitabnya, yaitu Al-Qur&#8217;an ini, diturunkan oleh Allah swt. untuk menyempurnakan semua risalah sebelumnya. Oleh karena semua risalah sebelum Nabi Muhammad saw. tersebut telah mengalami perubahan dan penyimpangan dari masa ke masa yang dilakukan oleh generasi setelahnya. Berbagai penyimpangan itu diantaranya: mengubah arti dari lafazh (kata-kata) yang ada [lihat QS. Ali Imran (3): 75, 181, 182; An-Nisa' (4): 160-161; Al-Maidah (5): 64], mengubah atau menambah baik kata, kisah, maupun hukum [lihat QS. Al-Baqarah (2): 79, Ali Imran (3): 79-80; Al-Maidah (5): 116-117], menyembunyikan dan menghilangkan berita-berita tentang Nabi Muhammad saw. dan kebenaran lainnya [lihat QS. Al-Baqarah (2): 89-90, 109, 146; Ali Imran (3): 71-72; Ash-Shaff<br />
(61): 6].</p>
<p>4. Berlaku untuk Semua Manusia.<br />
&#8220;Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.&#8221; [QS. Saba' (34): 28]</p>
<p>Perbedaan syariat Nabi Muhammad saw. dibandingkan para nabi sebelumnya adalah bahwa syariat beliau berlaku untuk seluruh ummat manusia sampai akhir zaman. Hal ini berbeda dengan syariat para nabi yang lainnya<br />
yang hanya terbatas untuk umatnya saja.</p>
<p>Hal ini mengandung dua pelajaran bagi kita, yaitu: pertama, mengetahui hikmah Allah swt. dalam penetapan hukum bagi setiap umat, sehingga Allah swt. selalu menetapkan hukum yang sesuai bagi setiap umat. Kedua, oleh sebab itu hal ini meyakinkan kita bahwa Islam merupakan syari&#8217;at yang paling sempurna, paling lengkap, dan paling baik karena merupakan penutup dan penyempurna dari risalah semua nabi dan rasul.</p>
<p>5. Menjadi Rahmat bagi Seluruh Alam.</p>
<p>&#8220;Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.&#8221; [QS. Al-Anbiya' (21): 107]</p>
<p>Hal lain yang juga memperkuat kebenaran risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. adalah dampak dari dakwahnya. Dakwahnya yang telah dapat mengubah sebuah peradaban yang terbelakang, buta aksara, dan kejam, menjadi memimpin dan menguasai peradaban dunia serta mengisinya dengan gabungan antara ketinggian ilmu pengetahuan dan akhlak yang belum dapat ditandingi oleh peradaban modern saat ini sekalipun. Di antara hasil karya besar Nabi Muhammad saw. sebagai rahmat bagi alam semesta ini adalah sebagai berikut.</p>
<p>1. Memusnahkan segala jenis syirik, baik yang besar (menyembah berhala, sihir, ramal, dan sebagainya) maupun kecil (sumpah bukan dengan nama Allah, riya&#8217;, dan sebagainya); dan menggantinya dengan keimanan yang total kepada Allah swt.</p>
<p>2. Memusnahkan segala adat tradisi jahiliyyah yang menyimpang, seperti membuka aurat, ber-khalwat dengan lawan jenis, campur baur lelaki dan wanita (ikhtilath), dan sebagainya; dan menggantinya dengan akhlak yang mulia dan tuntunan moral yang luhur.</p>
<p>3. Menegakkan sebuah sistem kehidupan yang seluruhnya berdiri di atas tauhid, baik ekonomi, politik, sosial, kemasyarakatan, seni, olahraga,<br />
dan lain-lain.</p>
<p>4. Melakukan sebuah revolusi total terhadap hati sanubari, pemikiran, dan peraturan hidup umat manusia.</p>
<p>5. Mempersatukan semua ras, semua suku, semua golongan manusia di bawah sebuah sistem yang berlandaskan tauhid, berhukumkan Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah dan bertujuankan kebaikan dunia dan akhirat</p>
<p>Ketika kita beriman kepada Nabi Muhammad saw., maka kita akan mengetahui bahwa risalah beliau adalah risalah yang paling lengkap dan paling sempurna yang pernah diturunkan oleh Sang Pencipta kepada hamba-Nya. Akidah semua nabi adalah satu, yakni tauhid, tetapi syariah mereka berbeda-beda. Karena Nabi  Muhammad saw. adalah nabi penutup, maka risalahnya adalah risalah yang terakhir dan syariatnya akan berlaku hingga akhir zaman. Tiada agama yang diridhai di sisi Allah swt. kecuali Islam, dan tidak ada nabi yang membawa syariat lain setelah Nabi Muhammad saw.</p>
<p>&#8220;Dan Muhammad itu bukanlah bapak dari salah seorang lelaki di antara kalian, tetapi ia adalah Rasul Allah dan Nabi yang terakhir; dan adalah Allah Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu.&#8221; [QS. Al-Ahzab (33): 40]</p>
<p>Imam At-Thabari saat menafsirkan ayat ini berkata, &#8220;Muhammad saw. itu bukanlah ayah dari salah seorang lelaki diantara kalian (Zaid bin Haritsah r.a., yaitu anak angkat Nabi saw.) melainkan beliau adalah Nabi terakhir, maka tiada lagi Nabi setelah beliau sampai hari kiamat; dan adalah Allah swt. terhadap segala perbuatan dan perkataan kalian Maha Mengetahui.&#8221; (Jami&#8217;ul Bayan fi Ta&#8217;wilil Qur&#8217;an, Imam At-Thabari, XX/278)</p>
<p>Imam Al-Qurthubi berkata, ayat ini mengandung 3 hukum Fiqh. &#8220;Pertama, saat Nabi saw. menikah dengan Zainab (mantan istri Zaid bin Haritsah r.a.) orang-orang munafik berkata: Dia (Muhammad) menikahi mantan istri anaknya sendiri, maka ayat ini turun untuk membantah haltersebut. Kedua, bahwa Muhammad saw. adalah Nabi terakhir, tiada Nabi sesudahnya yang membawa syariat baru. Ketiga, syariat beliau menyempurnakan syariat sebelumnya, sebagaimana sabdanya: Aku diutus untuk `menyempurnakan&#8217; akhlak yang mulia, atau sabdanya yang lain: Perumpamaanku dengan nabi sebelumku seperti perumpamaan seorang yang membuat bangunan yang amat indah, tinggal sebuah lubang batu bata yang belum dipasang, maka akulah batu bata tersebut dan akulah nabi yang terakhir.&#8221; (Al-Jami&#8217; li Ahkamil Qur&#8217;an, Imam Al-Qurthubi, I/4484)</p>
<p>Berkata Sayyid Quthb rahimahullah dalam tafsirnya, &#8220;Bahwa setelah menjelaskan tentang beliau saw. bukanlah ayah dari Zaid bin Haritsah r.a., sehingga halal beliau menikahi Zainab r.a., ayat ini juga menggariskan tentang pemenuhan hukum syariat yang masih tersisa yang harus diketahui dan disampaikan kepada umat manusia, sebagai realisasi dari penutup risalah langit untuk di bumi ini, tidak boleh ada pengurangan dan tidak boleh ada perubahan, semuanya harus disampaikan.&#8221; (Fi Zhilalil Qur&#8217;an, Sayyid Quthb, VI/89)</p>
<p>Lebih lanjut beliau menambahkan saat menafsirkan akhir ayat tersebut (yang berbunyi &#8220;Dan adalah Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu&#8221;), &#8220;Sungguh Dia-lah yang paling mengetahui apa yang paling baik dan paling tepat bagi para hamba-Nya, maka Ia memfardhukan kepada Nabi-Nya apa yang seharusnya dan memilihkan bagi beliau apa yang terbaik. Ia menetapkan hukum-Nya ini sesuai dengan pengetahuan-Nya yang meliputi segala sesuatu dan ilmu-Nya tentang mana yang terbaik tentang hukum, aturan dan undang-undang serta sesuai dengan kasih-sayang-Nya kepada semua hamba-Nya yang beriman.&#8221;</p>
<p>Demikianlah telah ijma&#8217; (konsensus) di antara para ulama bahwa Nabi Muhammad saw. adalah nabi terakhir, sehingga jika ada orang yang datang setelah beliau menyatakan ada nabi setelah beliau, maka perkataan tersebut batil dan tertolak berdasarkan ijma&#8217;; dan pelakunya harus bertobat kepada Allah swt.</p>
<p>http://www.dakwatuna.com/2007/makna-nabi-muhammad-saw-sebagai-penutup-para-nabi/<br />
<span style="color:#008000;">Edisi Cetak No. 24/Thn-8/2008  | 09 Jumadil Akhir 1429 H</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aladalah.wordpress.com/32/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aladalah.wordpress.com/32/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aladalah.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aladalah.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aladalah.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aladalah.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aladalah.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aladalah.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aladalah.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aladalah.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aladalah.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aladalah.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aladalah.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aladalah.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aladalah.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aladalah.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aladalah.wordpress.com&amp;blog=2701782&amp;post=32&amp;subd=aladalah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aladalah.wordpress.com/2008/07/05/makna-nabi-muhammad-saw-sebagai-penutup-para-nabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a6a1607ec1e30d207c5310b51b58ae81?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">al &#039;adalah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rahasia Senyum Muhammad</title>
		<link>http://aladalah.wordpress.com/2008/07/05/rahasia-senyum-muhammad/</link>
		<comments>http://aladalah.wordpress.com/2008/07/05/rahasia-senyum-muhammad/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 08:52:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>al 'adalah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aladalah.wordpress.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Ketika Anda membuka lembaran sirah kehidupan Muhammad saw., Anda tidak akan pernah berhenti kagum akan kemuliaan dan kebesaran pribadi Muhammad saw. Sisi kebesaran itu terlihat dari sikap seimbang dan selaras dalam setiap perilakunya, dan sikap beliau dalam menggunakan segala sarana untuk meluluhkan kalbu setiap orang dalam setiap kesempatan. Sarana paling besar yang dilakukan Muhammad saw. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aladalah.wordpress.com&amp;blog=2701782&amp;post=31&amp;subd=aladalah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika Anda membuka lembaran sirah kehidupan Muhammad saw., Anda tidak akan pernah berhenti kagum akan kemuliaan dan kebesaran pribadi Muhammad saw.</p>
<p>Sisi kebesaran itu terlihat dari sikap seimbang dan selaras dalam setiap perilakunya, dan sikap beliau dalam menggunakan segala sarana untuk meluluhkan kalbu setiap orang dalam setiap kesempatan.</p>
<p>Sarana paling besar yang dilakukan Muhammad saw. dalam dakwah dan perilaku beliau adalah, gerakan yang tidak membutuhkan biaya besar, tidak membutuhkan energi berlimpah, meluncur dari bibir untuk selanjutnya masuk ke relung kalbu yang sangat dalam.</p>
<p>Jangan Anda tanyakan efektifitasnya dalam mempengaruhi akal pikiran, menghilangkan kesedihan, membersihkan jiwa, menghancurkan tembok pengalang di antara anak manusia!. Itulah ketulusan yang mengalir dari dua bibir yang bersih, itulah senyuman!</p>
<p>Itulah senyuman yang direkam Al Qur&#8217;an tentang kisah Nabi Sulaiman as, ketika Ia berkata kepada seekor semut, &#8220;Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: &#8220;Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; Dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh&#8221;. An Naml:19</p>
<p>Senyuman itulah yang senantiasa keluar dari bibir mulia Muhammad saw., dalam setiap perilakunya. Beliau tersenyum ketika bertemu dengan sahabatnya. Saat beliau menahan amarah atau ketika beliau berada di majelis peradilan sekalipun.</p>
<p>Diriwayatkan dari Jabir dalam sahih Bukhari dan Muslim, berkata, &#8220;Sejak aku masuk Islam, Rasulullah saw tidak pernah menghindar dariku. Dan beliau tidak melihatku kecuali beliau pasti tersenyum kepadaku.&#8221;</p>
<p>Suatu ketika Muhammad saw didatangi seorang Arab Badui, <span id="more-31"></span>dengan serta merta ia berlaku kasar dengan menarik selendang Muhammad, sehingga leher beliau membekas merah. Orang Badui itu bersuara keras, &#8220;Wahai Muhammad, perintahkan sahabatmu memberikan harta dari Baitul Maal! Muhammad saw. menoleh kepadanya seraya tersenyum. Kemudian beliau menyuruh sahabatnya memberi harta dari baitul maal kepadanya.”</p>
<p>Ketika beliau memberi hukuman keras terhadap orang-orang yang terlambat dan tidak ikut serta dalam perang Tabuk, beliau masih tersenyum mendengarkan alasan mereka.</p>
<p>Ka&#8217;ab ra. berkata setelah mengungkapkan alasan orang-orang munafik dan sumpah palsu mereka: &#8220;Saya mendatangi Muhammad saw., ketika saya mengucapkan salam kepadanya, beliau tersenyum, senyuman orang yang marah. Kemudian beliau berkata, &#8220;Kemari. Maka saya mendekati beliau dan duduk di depan beliau.&#8221;</p>
<p>Suatu ketika Muhammad melintasi masjid yang di dalamnya ada beberapa sahabat yang sedang membicarakan masalah-masalah jahiliyah terdahulu, beliau lewat dan tersenyum kepada mereka. Beliau tersenyum dari bibir yang lembut, mulia nan suci ini, sampai akhir detik-detik hayat beliau.</p>
<p>Anas bin Malik berkata diriwayatkan dalam sahih Bukhari dan Muslim, &#8220;Ketika kaum muslimin berada dalam shalat fajar, di hari Senin, sedangkan Abu Bakar menjadi imam mereka, ketika itu mereka dikejutkan oleh Muhammad saw. yang membuka hijab kamar Aisyah. Beliau melihat kaum muslimin sedang dalam shaf shalat, kemudian beliau tersenyum kepada mereka!&#8221;</p>
<p>Sehingga tidak mengherankan beliau mampu meluluhkan kalbu sahabat-shabatnya, istri-istrinya dan setiap orang yang berjumpa dengannya!</p>
<p>Menyentuh Hati<br />
Muhammad saw. telah meluluhkan hati siapa saja dengan senyuman. Beliau mampu &#8220;menyihir&#8221; hati dengan senyuman. Beliau menumbuhkan harapan dengan senyuman. Beliau mampu menghilangkan sikap keras hati dengan senyuman. Dan beliau saw. mensunnahkan dan memerintahkan umatnya agar menghiasi diri dengan akhlak mulia ini. Bahkan beliau menjadikan senyuman sebagai lahan berlomba dalam kebaikan, beliau bersabda, &#8220;Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.&#8221; At Tirmidzi dalam sahihnya.</p>
<p>Meskipun sudah sangat jelas dan gamblang petunjuk Nabi dan praktek beliau langsung. Namun Anda masih banyak melihat sebagaian manusia masih berlaku keras terhadap anggota keluarganya, tehadap rumah tangganya dengan tidak menebar senyuman dari bibirnya dan dari ketulusan hatinya.</p>
<p>Anda merasakan bahwa sebagian manusia -karena bersikap cemberut dan muka masam- mengira bahwa giginya bagian dari aurat yang harus ditutupi! Di mana mereka di depan petunjuk Nabi yang agung ini! Sungguh jauh mereka dari contoh Nabi muhammad saw.!</p>
<p>Ya, kadang Anda melewati jam-jam Anda dengan dirundung duka, atau disibukkan beragam pekerjaan, akan tetapi Anda selalu bermuka masam, cemberut dan menahan senyuman yang merupakan sedekah, maka demi Allah, ini adalah perilaku keras hati, yang semestinya tidak terjadi. Wal iyadzubillah.</p>
<p>Pengaruh Senyum<br />
Sebagian manusia ketika berbicara tentang senyum mengaitkan dengan pengaruh psikologis terhadap orang yang tersenyum. Mengkaitkan boleh-boleh saja, yang oleh kebanyakan orang boleh jadi sepakat akan hal itu. Namun seorang muslim memandang hal ini dengan kaca mata lain, yaitu kaca mata ibadah, bahwa tersenyum adalah bagian dari mencontoh Nabi saw. yang disunnahkan dan bernilai ibadah.</p>
<p>Para pakar dari kalangan muslim maupun non muslim melihat dampak besar dari seuntai senyuman dan sangat besar pengaruhnya.</p>
<p>Dil Karanji dalam bukunya yang terkenal, &#8220;Bagaimana Anda Mendapatkan Teman dan Mempengaruhi Manusia&#8221; menceritakan, &#8220;Wajah merupakan cermin yang tepat bagi perasaan hati seseorang. Wajah yang ceria, penuh senyuman alami, senyum tulus adalah sebaik-baik sarana memperoleh teman dan kerja sama dengan pihak lain. Senyum lebih berharga dibanding sebuah pemberian yang dihadiahkan seorang pria. Dan lebih menarik dari lipstik dan bedak yang menempel di wajah seorang wanita. Senyum bukti cinta tulus dan persahabatan yang murni.&#8221;</p>
<p>Ia melanjutkan, &#8220;Saya minta setiap mahasiswa saya untuk tersenyum kepada orang tertentu sekali setiap pekannya. Salah seorang mahasiswa datang bertemu dengan pedagang, ia berkata kepadanya, &#8220;Saya pilih tersenyum kepada istriku, ia tidak tau sama sekali perihal ini. Hasilnya adalah saya menemukan kebahagiaan baru yang sebelumnya tidak saya rasakan sepanjang akhir tahun-tahun ini. Yang demikian menjadikan saya senang tersenyum setiap kali bertemu dengan orang. Setiap orang membalas penghormatan kepada saya dan bersegera melaksanakan khidmat -pelayanan- terhadap saya. Karena itu saya merasakan hidup lebih ceria dan lebih mudah.&#8221;</p>
<p>Kegembiraan meluap ketika Karanji menambahkan, &#8220;Ingatlah, bahwa senyum tidak membutuhkan biaya sedikitpun, akan tetapi membawa dampak yang luar biasa. Tidak akan menjadi miskin orang yang memberinya, justeru akan menambah kaya bagi orang yang mendapatkannya. Senyum juga tidak memerlukan waktu yang bertele-tele, namun membekas kekal dalam ingatan sampai akhir hayat. Tidak ada seorang fakir yang tidak memilikinya, dan tidak ada seorang kaya pun yang tidak membutuhkannya.&#8221;</p>
<p>Betapa kita sangat membutuhkan sosialisasi dan penyadaran petunjuk Nabi yang mulia ini kepada umat. Dengan niat taqarrub ilallah -pendekatan diri kepada Allah swt.- lewat senyuman dimulai dari diri kita, rumah kita, bersama istri-istri kita, anak-anak kita, teman sekantor kita. Dan kita tidak pernah merasa rugi sedikit pun! Bahkan kita akan rugi, rugi dunia dan agama, ketika kita menahan senyuman, menahan sedekah ini, yaitu dengan selalu bermuka masam dan cemberut dalam kehidupan.</p>
<p>Pengalaman membuktikan bahwa dampak positif dan efektif dari senyuman ini, yaitu senyuman menjadi pendahuluan ketika meluruskan orang yang keliru, dan menjadi muqaddimah ketika mengingkari yang munkar. Orang yang selalu cemberut tidak menyengsarakan kecuali dirinya sendiri dan dengan bermuka masam ia telah mengharamkan menikmati dunia ini. Bagi orang yang menebar senyum selamanya akan senang dan gembira. Allahu a&#8217;lam.</p>
<p>Ulis Tofa, Lc .</p>
<p>http://www.dakwatuna.com/2008/rahasia-senyum-muhammad/<br />
<span style="color:#008000;">Edisi Cetak No.23/Thn-8/2008 | 24 Jumadil Awwal 1429 H</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aladalah.wordpress.com/31/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aladalah.wordpress.com/31/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aladalah.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aladalah.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aladalah.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aladalah.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aladalah.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aladalah.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aladalah.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aladalah.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aladalah.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aladalah.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aladalah.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aladalah.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aladalah.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aladalah.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aladalah.wordpress.com&amp;blog=2701782&amp;post=31&amp;subd=aladalah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aladalah.wordpress.com/2008/07/05/rahasia-senyum-muhammad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a6a1607ec1e30d207c5310b51b58ae81?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">al &#039;adalah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Barisan Dakwah Harus Solid</title>
		<link>http://aladalah.wordpress.com/2008/05/30/barisan-dakwah-harus-solid/</link>
		<comments>http://aladalah.wordpress.com/2008/05/30/barisan-dakwah-harus-solid/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 May 2008 03:36:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>al 'adalah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[barisan]]></category>
		<category><![CDATA[barisan perang]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Shaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aladalah.wordpress.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.&#8221; Dalam Al Qur&#8217;an ada satu surah namanya *Ash Shaf* artinya barisan yang kokoh. Dalam shalat berjamaah disyaratkan barisan shaf harus lurus. Karena ketidak lurusan shaf akan menyebabkan hati bercerai-berai. Dalam ayat di atas kita temukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aladalah.wordpress.com&amp;blog=2701782&amp;post=30&amp;subd=aladalah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><em>&#8220;Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.&#8221;</em></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:left;">Dalam Al Qur&#8217;an ada satu surah namanya *Ash Shaf* artinya barisan yang kokoh. Dalam shalat berjamaah disyaratkan barisan shaf harus lurus. Karena ketidak lurusan shaf akan menyebabkan hati bercerai-berai. Dalam ayat di atas kita temukan kata *shaffa* yang artinya barisan pasukan umat Islam harus lurus dan kokoh, “ka&#8217;annahum bunyaanun marshush” (mereka seperti bangunan yang kuat, tidak tergoyahkan).</p>
<p>Amal Yang Paling Dicintai Allah<br />
Imam Al Qurthuby meriwayatkan bahwa ayat di atas turun ketika para sahabat bertanya: *law na&#8217;lam ayyul a&#8217;maali ahabbu ilallahhi la&#8217;amilnaahu*(seandainya kami tahu amal yang paling Allah cintai niscaya kami akan melakukannya) lalu turunlah ayat di atas.<br />
Benar ayat ini berkenaan dengan masalah barisan perang, tetapi pada dasarnya semua barisan sama. Baik itu barisan dalam shalat maupun barisan dalam dakwan apalagi dalam perang, itu harus solid. Karena itu Rasulullah saw. selalu mengingatkan sebelum shalat agar barisam shaf diluruskan. Bahkan Rasulullah saw. tidak pernah memulai shalatnya sampai semua barisan shaf benar-benar rapi. Perhatikan betapa makna soliditas barisan ini benar-benar sangat penting, sebagai cerminan ketaatan bagi orang-orang yang beriman.<br />
Dari firman Allah di atas: *innallaaha yuhibu* nampak bahwa Allah benar-benar sangat mencintai barisan yang solid. Artinya sekalipun seseorang banyak melakukan ibadah ritual, seperti shalat, puasa, zakat dan haji, tetapi jika dalam akhlaknya seahari-hari merusak persatuan umat Islam, itu semua tidak akan membuat Allah cinta kepadanya. Perhatikan Allah mengkaitkan cinta-Nya dengan soliditas barisan. Bahwa untuk meraih cinta Allah seorang hamba harus bersatu dengan saudaranya. Tidak boleh saling menjatuhkan, menjelekkan hanya karena perbedaan fikih atau jamaah, apalagi saling membunuh.<br />
Karenanya kita menemukan contoh-contoh yang sangat mengagumkan dari tradisi para ulama, bahwa mereka sekalipun berbeda mazhab fikih, mereka saling menghormati di antara mereka.<br />
Imam Ahmad mengatakan: &#8220;Aku tidak akan menjelekkan orang-orang yang mengatakan bahwa menyentuh kemaluan tidak membatalkan wudhu&#8217; sekalipun itu sependapat dengan aku.”</p>
<p>Imam Syafi&#8217;ie tidak membaca qunut ketika menjadi imam di tengah masyarakat yang bermadzhab Hanafi. Ketika di tanya mengapa ia tidak membaca qunut, padahal baginya sunnah muakkadah dalam shalat subuh, Imam Sya&#8217;fii menjawab, &#8220;Aku menghormati pendapat Imam Abu Hanifah.”</p>
<p>Perhatikan, betapa para ulama benar-benar memahami bahwa <span id="more-30"></span>perbedaan fikih tidak boleh menyebabkan lahirnya fanatisme buta, bahkan harus saling menghormati antar satu dengan lain. Ini antara berbagai madzhab, bahwa solidaritas keumatan itu harus ditegakkan, apalalagi dalam satu jama&#8217;ah atau organisasi dakwah yang jelas-jelas semuanya berbuat untuk menegakkan ajaran Allah swt.<br />
Mengapa soliditas barisan ini termasuk amal yang paling dicintai Allah?</p>
<p>Pertama, bahwa dari soliditas akan lahir kekompakan.<br />
Dari kekompakan akan lahir sinergi yang berkesinambungan. Bukankah kita hidup di alam ini karena sinergi yang utuh antar seluruh unsur yang Allah ciptakan di dalamnya. Dalam ilmu biologi itu di kenal dengan ekosistem.<br />
Perhatikan bahwa semua proses dalam hidup kita sehari-harti sangat membutuhkan soliditas. Dalam tubuh kita, kita temukan bahwa semua organ bekerjasama dengan solid, sehingga kita merasakan nikmatnya. Sungguh tidak terbayang apa yang akan kita rasakan jika masing-masing organ dalam tubuh kita bekerja sendiri-sendiri dan bercerai-berai. Berdasarkan ini nampak bahwa soliditas itu fitrah. Dan kita semua tidak akan pernah menghindarinya.</p>
<p>Sekali menghindar kita pasti akan menderita, bahkan itu akan menyebabkan malapetaka bagi kemanusiaan. Karena itu menegakkan soliditas dalam usaha apa saja -apalagi dalam usaha dakwah- adalah suatu keniscayaan. Maka sungguh berdosa ketika seseorang mengaku beriman kepada Allah, sementara dalam menegakkan ajaran-Nya tidak solid, apalagi saling membunuh antar sesamanya.</p>
<p>Kedua, soliditas barisan adalah bagian dari iman.<br />
Perhatikan ayat sebelumnya, Allah memanggil orang-orang yang beriman untuk berfirman: “limaa taquuluuna maa laa taf&#8217;aluun” artinya (wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian lakukan).<br />
Maksudnya mengapa kalian mengaku beriman jika kalian tidak mau bersatu dalam barisan yang kokoh. Ini menarik untuk kita tekankan. Sebab fenomena perpecahan di kalangan umat Islam kini di anggap biasa. Padahal menurut ayat di atas menegakkan persatuan yang solid adalah ciri utama keimanan. Dengan kata lain bahwa tidak ada artinya iman yang dimiliki seseorang jika kemudian saling bemusuhan sesama mu&#8217;min. Bahkan dalam surah Al Hujurat:10 Allah berfirman: “innamal mu&#8217;minuuna ikhawatun”, kata innama dalam pandangan ulama tafsir *lilhashr* maksudnya identifikasi. Artinya bahwa seorang yang beriman identik dengan persaudaraan. Maksudnya tidak pantas seseorang mengaku beriman jika kemudian tidak bersaudara antara satu dengan lainnya. Sama dengan ayat di atas, bahwa tidak pantas seseorang mengatakan bahwa dirinya beriman jika dalam prakteknya tidak bersatu dalam barisan yang kokoh.</p>
<p>Ketiga, bahwa tidak solid dalam barisan dakwah adalah perbuatan dosa.<br />
Perhatikan Allah berfirman pada ayat sebelumnya: &#8220;Amat dibenci oleh Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan&#8221;. Lalu Allah menegaskan bahwa sangat suka kepada orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dengan barisan yang solid. Artinya bahwa syarat untuk mendapatkan cinta Allah, bukan hanya semata berjuang di jalan-Nya, tetapi juga harus bersatu dalam satu barisan yang solid. Ini pemahaman yang banyak orang Islam salah pahami, sehingga mereka tidak mau bersatu dengan umat Islam lainnya. Padahal shalatnya masih sama, kiblatnya juga masih sama, Allah yang disembah pun juga masih sama. Akibatnya mereka mudah di adu domba. Tidak sedikit dari nyawa orang Islam yang melayang hanya karena perang saudara.</p>
<p>*Bagai Satu Bangunan Yang Kokoh*</p>
<p>Pada ayat berikutnya Allah berfirman: “ka&#8217;annahum bunyaanun marshush” (mereka seperti bangunan yang kokoh). Apa artinya:</p>
<p>Pertama, bahwa masing-masing bahan bangunan itu berkualitas baik.<br />
Tidak mungkin bangunan itu tegak kokoh jika batu batanya rapuh atau kualitas pasir dan semennya tidak baik. Bagitu juga dalam dakwah, bahwa masing-masing individu harus mempunyai iman dan keikhlasan yang benar-benar berkualitas.<br />
Di sini peran tarbiyah dan pembinaan harus dioptimalkan.</p>
<p>Kedua, bahwa bahan-bahan bangunan itu bukan hanya baik secara individual melainkan harus bisa disinergikan dengan bahan-bahan lainnya.<br />
Artinya bahwa kualitas masing-masing aktifis dakwah hendaknya bukan hanya baik secara individu, melainkan ia mampu bersinergi dengan orang lain.<br />
Itulah rahasia mengapa Allah mengumpamakan dengan bangunan. Bahwa seorang muslim tidak cukup hanya menjadi sholeh sendirian, melainkan ia harus bersinergi untuk membuat orang lain beramal shaleh. Dalam rangka ini sangat dibutuhkan soliditas barisan dakwah.</p>
<p>Ketiga, bahwa bangunan dikatakan kokoh bila bertahan lama, dan tidak mengalami kerapuhan di tengah musim apapun panas atau hujan.<br />
Begitu juga barisan dakwah dikatakan solid bila ia tetap utuh, tidak terpengaruh dengan rayuan dan godaan apapun. Pun juga tetap istiqamah memegang prinsip sekalipun situasi dan kondisi memaksanya harus berubah. Ia tidak pernah bubar barisan sebelum ada komando bubar barisan. Itulah rahasia mengapa Allah swt. mengumpamakan dengan bangunan yang kokoh. Karena bangunan akan melindungi dan bisa memberikan rasa aman kepada penghuninya bila ia kokoh dan solid. *Wallahu a&#8217;lam bishshawab*.<br />
DR. Amir Faishol Fath<br />
&lt;http://www.dakwatuna.com/author/ustadz&gt;</p>
<p><span style="color:#339966;">Edisi Cetak : No. 22/Thn-8/2008 | 17 Jumadil Awwal 1429 H</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aladalah.wordpress.com/30/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aladalah.wordpress.com/30/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aladalah.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aladalah.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aladalah.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aladalah.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aladalah.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aladalah.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aladalah.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aladalah.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aladalah.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aladalah.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aladalah.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aladalah.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aladalah.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aladalah.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aladalah.wordpress.com&amp;blog=2701782&amp;post=30&amp;subd=aladalah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aladalah.wordpress.com/2008/05/30/barisan-dakwah-harus-solid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a6a1607ec1e30d207c5310b51b58ae81?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">al &#039;adalah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SEHELAI DAUN JATUH</title>
		<link>http://aladalah.wordpress.com/2008/04/25/sehelai-daun-jatuh-3/</link>
		<comments>http://aladalah.wordpress.com/2008/04/25/sehelai-daun-jatuh-3/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Apr 2008 06:28:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>al 'adalah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aladalah.wordpress.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Ahmad Hadian (Ketua DPD PKS Kab. Batu Bara &#8211; Sumatera Utara) Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aladalah.wordpress.com&amp;blog=2701782&amp;post=29&amp;subd=aladalah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Ahmad Hadian (Ketua DPD PKS Kab. Batu Bara &#8211; Sumatera Utara)</p>
<p><em>Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).<br />
(al An&#8217;am :59)</em></p>
<p>Ma&#8217;ashirol Muslimin Rahimakumullah,<br />
Pernahkah kita menyempatkan diri menghitung berapa helai daun yang jatuh dari pohon di halaman rumah kita? Ini mungkin terkesan sepele, sama sepelenya dengan arti sehelai daun dalam pandangan kita. Apa pentingnya bertanya seperti itu, dan sejauh apa pentingnya daun-daun pepohonan bagi kita? Di situlah masalahnya. Kita umumnya cenderung mengabaikan hal-hal yang kecil. Pohon rambutan di halaman rumah kita, misalnya, yang selalu kita perhatikan adalah sudahkah tumbuh bunganya ? Buahnya sudah masak atau belum, dan sebagainya. Sedangkan berapa helai daunnya yang jatuh, kita tentu tak pernah menghitungnya?</p>
<p>Namun, tidak demikian halnya dengan Allah SWT. Dalam surat Al-An&#8217;aam 59 dikatakan, Dia mengetahui setiap helai daun yang jatuh (wama tasquthu min waraqatin illaa ya&#8217;lamuha). Bayangkan, setiap helai daun Allah ketahui dengan pasti. Apa makna dari perbuatan Tuhan ini? Buat apa Tuhan menghitungi daun-daun? Apa Tuhan tidak ada kerjaan sehingga sempat-sempatnya melakukan sesuatu yang menurut pandangan kita sangat sepele itu? Makna ayat ini adalah tamsil, ini bukanlah bahwa Tuhan kurang kerjaan, tetapi bahwa apa-apa yang kita melalaikannya, Dia justru memperhatikannya. Hal-hal yang dalam pandangan kita kecil, sepele, bagi Dia tetap memiliki nilai dan arti.</p>
<p>Pesan pentingnya adalah, <span id="more-29"></span>jika yang kita anggap sepele saja Dia perhatikan, apatah lagi hal-hal yang kita anggap penting. Jika yang kecil-kecil saja tidak pernah lepas dari penglihatan Dia, apalagi yang besar-besar. Jika sesuatu yang seremeh helai daun saja Dia perhatikan, apalagi manusia dan semua perbuatannya, karena manusia tentu saja jauh lebih penting daripada sekadar helai daun. Dalam pandangan Allah, semua adalah penting, semua bermakna. Seluruh benda hidup dan benda mati menjadi urusan bagi Dia, tak ada kecuali barang satu dan sedikit pun. Begitu pula atas segala perbuatan manusia di dunia ini, baik amal yang kecil maupun yang besar, yang sedikit maupun yang banyak. Dalam surat Az-Zalzalah 7-8 dikatakan, setiap perbuatan manusia, entah yang baik atau buruk, meski sebiji zarrah (mitsqal dzarratin) akan tetap dimintai pertanggungjawabannya kelak di akhirat.</p>
<p>Orang-orang solih di masa lalu mengerti benar ajaran ini, dan mereka mengim-plementasikannya dalam setiap gerak kehidupan. Sheikh Idris &#8211;ayahanda Imam Syafi&#8217;i&#8211; misalnya, rela berjalan menyusuri ke hulu sungai, hanya untuk mencari pemilik dari sebuah delima yang terbawa arus sungai dan ia telah menyantapnya, itu dilakukannya untuk minta kehalalan. Sayang sekali, makna ataupun ajaran terdalam yang tersirat dari surat Al-An&#8217;aam 59 itu, yakni tentang kontrol moral, sekarang ini justru telah tercampakkan jauh-jauh dari arena kehidupan kita.</p>
<p>Kita seringkali tidak menyadari atau pura-pura tidak sadar atau bahkan berani melawan kesadaran, bahwa Allah maha menatap apapun yang kita kerjakan dalam kehidupan ini. Buktinya adalah kita selalu saja berani melakukan maksiat-maksiat terutama maksiat yang merupakan dosa kecil yang kita anggap sepele. Kita selalu beranggapan bahwa setelah melakukan hal itu toh kita bisa bertaubat.</p>
<p>Saudaraku, kata rasulullah saw, perumpamaan orang yang melakukan dosa kecil itu adalah seperti seseorang yang mengumpulkan ranting kayu untuk dibuat api unggun, semakin lama semakin menumpuk ranting tersebut. Maka manakala sudah menumpuk kemudian ia membakarnya, maka timbullah api yang besar yang akan mampu membakar segala sesuatu yang ada disekelilingnya. Demikian pula dosa-dosa kecil itu, jika terus kita kumpulkan, maka kita akan semakin asyik dengannya dan semakin lupa untuk kembali ke jalan yang benar, akhirnya dosa besar pun mulai kita lakukan, kemudian kita tersesat semakin jauh dan sulit untuk kembali. Na&#8217;udzu billah min dzalik.</p>
<p>Lebih dari itu saudaraku, dosa kecil itu ibarat butiran pasir yang terselip disela-sela jari kaki. Seorang pendaki gunung contohnya, akan sangat siap menghadapi ganasnya medan dengan mempersiapkan segala sesuatu berupa perlengkapan pendakian. Mereka telah menyiapkan sepatu bertapak khusus untuk mengantisipasi licinnya lereng yang terjal, mereka juga telah siap dengan tali temali sebagai alat bantu keselamatan. Lalu ada ransel besar yang mereka bawa berisi pakaian tebal anti cuaca dingin dan tidak lupa pula tentunya bahan makanan sebagai persediaan, dan alat-alat kelengkapan lainnya. Tetapi ternyata saudaraku, mereka selalu saja tidak siap menghadapi sebutir pasir yang menyelinap masuk kedalam kaus kakinya, lalu terselip di antara jari kakinya, kemudian ia mengakibatkan lecet yang semakin lama semakin mengganggu, bahkan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa dan sangat mungkin menyebabkan kecelakaan yang fatal.</p>
<p>Nah saudaraku kaum Muslimin rahimakumullah, kita selalu siap dan hati-hati sekali menghindari kesalahan-kesalahan besar dalam hidup ini, tetapi kita seringnya justru tergelincir karena kesalahan yang kecil. Maka mulai sekarang waspadalah kita terhadap segala bentuk penyimpangan dan dosa, sebab sekecil apapun dosa itu, Allah melihatnya dan mencatatnya.</p>
<p>Kalau Allah begitu mengenali kesalahan-kesalahan kecil manusia, apatah lagi kesalahan-kesalahan besar yang kita kerap lakukan ??</p>
<p>Budaya korupsi yang begitu mengakar dalam diri bangsa ini misalnya, kebiasaan Risywah (sogok menyogok) yang sudah menjadi syarat bagi mendapatkan segala sesuatu sudah sedemikian menjadi-jadi dan sebuah kelaziman, itu semua sesungguhnya berpangkal pada lemahnya kontrol moral kita sebagai manusia.</p>
<p>Manusia ini memang cenderung selalu lebih takut kepada yang nampak saja, padahal yang nampak itu punya berbagai kelemahan dan hakikatnya tidak abadi. Sementara Allah yang nota bene tidak nampak itu tidak kita takuti, padahal kekuasaannya meliputi segala sesuatu dan Sang pemilik keabadian. Ketika seseorang takut kepada pengawasan makhluk, maka ia mencoba untuk mengakali kemampuan pengawasnya dan mungkin saja ia berhasil mengelabui sang pengawas itu. Tetapi siapapun orangnya yang mencoba mengakali Allah Sang Pengawas tertinggi itu, ketahuilah bahwa DIA adalah pencipta akal manusia, DIA akan tetap tahu apa yang kita lakukan bahkan apapun yang kita rencanakan.</p>
<p>Wahai hamba-hamba Allah yang lemah, mari kita kuatkan kembali perasaan dan keyakinan akan Muroqobatullah (perasaan senantiasa diawasi oleh Allah) sebab hanya dengan begitu kita akan selamat dan terhindar dari perbuatan yang menyimpang.</p>
<p>Akan tetapi saudaraku muslimin rahimakumullah, permasalahannya kemudian adalah bahwa untuk bisa memiliki sifat muroqobatullah itu tidaklah semudah merencanakannya. Untuk bisa memiliki perasaan  senantiasa diawasi Allah swt itu tidak bisa ujug-ujug begitu saja, ini semua perlu upaya, perlu latihan yang diawali dengan pemahaman yang benar tentang hal ini.</p>
<p>Al Ustadz Sa&#8217;id bin Muhammad Daib Hawwa (Sa&#8217;id Hawwa) dalam kitabnya &#8220;al Mustakhlash fii tazakiyyatil anfus&#8221; yang merupakan penyempurnaan dari kitab Ihya Ulumuddin nya Imam al Ghozali, mengemukakan tentang teori dan langkah-langkah memperbaiki diri.</p>
<p>Itu semua ternyata harus dimulai dengan langkah-langkah penyucian jiwa (Tazkiyyatun Nafs) yang dimulai dari rajin bermuhasabah sebelum tidur yaitu merenungkan kembali perjalanan hidup yang telah kita lakukan seharian, jika kita menemukan dosa maka kita segera beristighfar, jika kita menemukan kebaikan kita bersyukur dan berdo&#8217;a agar esok pagi kita mampu mengulanginya dengan kebaikan yang lebih besar. Langkah berikutnya, memutaba&#8217;ah diri yaitu memberikan target-target amalan kepada diri sendiri seperti mentargetkan untuk tetap membaca qur&#8217;an sekian ayat dalam sehari, mentargetkan untuk berpuasa sunnah sekian hari setiap minggunya, qiyamul lail sekian kali dalam sepekan, mentargetkan harus bershodaqoh setiap hari meskipun kecil, mendawamkan sholat berjamaah dimasjid, selalu istighfar setiap waktu dan lain sebagainya. Kemudian setelah itu bermujahadah yaitu berusaha dengan sungguh-sungguh melawan kemalasan dalam melaksanakan target-target pribadi itu. Akhirnya langkah itu ditutup dengan Mulaazamatush sholihin (bergaul senantiasa dengan orang-orang sholih) yaitu menjaga pergaulan kita sehari-hari.</p>
<p>Agar kita bisa istiqomah dalam kebaikan, terhindar dari dosa besar maupun kecil, maka kita wajib bergaul dengan orang-orang yang memang sudah berhasil bisa berubah, merubah dirinya dari kejahiliyahan menjadi orang yang memelihara diri dengan amalan sholihnya. Yakinlah saudaraku, bahwa pergaulan itu adalah pintu masuk. Manakala kita bergaul dengan para sholihin, insya Allah lambat laun kita akan menjadi sholih dan sebaliknya manakala kita berkawan dengan orang jahil, cepat atau lambat kita pun akan terikut menjadi jahil.<br />
Rasul saw pernah bersabda : &#8220;al mar-u &#8216;alaa diini kholilihi, falyanzhur ahadukum man yukhollil&#8221; = seseorang itu tergantung kepada agama sahabatnya, maka setiap kamu hendaklah berhati-hati dengan siapa kamu bersahabat.</p>
<p>Saudaraku muslimin rahimakumullah. Dengan siapapun kita memang harus berkawan, kita memang harus bergaul. Tetapi yang dimaksud dengan pergaulan dalam hal ini adalah memilih sahabat, kawan akrab yang bisa menjadi tempat curhat. Teman yang bisa jadi kawan diskusi dan berbagi. Kalau bergaul secara sosial dalam kehidupan bertetangga dan bermasyarakat, bergaulah sebagai mana mestinya, tak baik kita beda-bedakan mereka atas dasar apapun. Tetapi dalam memilih sahabat seperjalanan tentunya kita harus punya pilihan.</p>
<p>Demikianlah mudah-mudahan bisa memberikan pencerahan dan semoga kita ditunjukan kejalan yang benar, dijumpakan dan dikumpulkan dengan kawan-kawan yang sholih dimana kita bisa belajar dan bersama-sama menjalani sisa hidup ini dengan selamat dibawah ridho Allah swt.<br />
Amiin allahumma amiin, aquluu qouli hadza wa astaghfirullaha liy walakum.</p>
<p>Edisi Cetak No. 21/Thn-8/2008 | 4 Rabi&#8217;ul Akhir 1429 H</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aladalah.wordpress.com/29/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aladalah.wordpress.com/29/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aladalah.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aladalah.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aladalah.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aladalah.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aladalah.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aladalah.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aladalah.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aladalah.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aladalah.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aladalah.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aladalah.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aladalah.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aladalah.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aladalah.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aladalah.wordpress.com&amp;blog=2701782&amp;post=29&amp;subd=aladalah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aladalah.wordpress.com/2008/04/25/sehelai-daun-jatuh-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a6a1607ec1e30d207c5310b51b58ae81?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">al &#039;adalah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KEPEMIMPINAN dalam PANDANGAN ISLAM</title>
		<link>http://aladalah.wordpress.com/2008/04/11/kepemimpinan-dalam-islam/</link>
		<comments>http://aladalah.wordpress.com/2008/04/11/kepemimpinan-dalam-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Apr 2008 04:37:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>al 'adalah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aladalah.wordpress.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Saudaraku seiman Rahimakumullah, Selaku warga bangsa khususnya kita warga provinsi Sumatera Utara, sebentar lagi akan menghadapi sebuah pesta demokrasi yaitu pilgubsu 2008. Melalui kegiatan itu kita akan menentukan kepada siapakah tampuk kepemimpinan di provinsi ini akan kita percayakan. Didalam tashowwur / persepsi Islam, kepemimpinan adalah bagian dari syari&#8217;at Islam itu sendiri, karenanya saudaraku kaum muslimin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aladalah.wordpress.com&amp;blog=2701782&amp;post=26&amp;subd=aladalah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saudaraku seiman Rahimakumullah,<br />
Selaku warga bangsa khususnya kita warga provinsi Sumatera Utara, sebentar lagi akan menghadapi sebuah pesta demokrasi yaitu pilgubsu 2008. Melalui kegiatan itu kita akan menentukan kepada siapakah tampuk kepemimpinan di provinsi ini akan kita percayakan. Didalam tashowwur / persepsi Islam, kepemimpinan adalah bagian dari syari&#8217;at Islam itu sendiri, karenanya saudaraku kaum muslimin rahimakumullah, selaku ummat Islam yang  percaya kepada syari&#8217;at agama nya wajiblah kita semua memiliki pandangan yang serius pula terhadap masalah ini dan hendaknya tidak ada seorangpun dari ummat Islam yang apatis atau masa bodoh terhadap soal kepemimpinan ini. Bahkan semestinya harus dengan sangat antusias menyongsong dan mempersiapkan langkah-langkah dengan perhitungan cermat agar kita bisa menghasilkan kepemimpinan yang baik, kepemimpinan yang sholih, kepemimpinan yang memberikan maslahat dan manfaat bagi seluruh rakyat dan kepemimpinan yang dinaungi Allah swt dengan inayah dan maghfiroh Nya. Jadi untuk itu ada beberapa hal yang harus kita sepakati dalam urusan ini.<br />
<span id="more-26"></span><br />
 Hal yang pertama ; marilah kita bulatkan terlebih dahulu tekad kita, kita samakan visi kita bahwa kepemimpinan kedepan harus diserahkan kepada orang-orang sholih yaitu orang yang punya cukup alasan untuk mendapatkan bantuan Allah swt dalam melaksanakan tugasnya kelak.<br />
 Bayangkan saudaraku sekalian, jika kita umat Islam ini apatis terhadap suksesi kepemimpinan ini, kemudian kita dengan sengaja menarik diri dari percaturan ini dengan tidak berperan serta dalam menentukan pilihan kita, ini artinya kita telah memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada para pendukung kebathilan untuk menggolkan orang-orang yang pro terhadap kebathilan itu. Jika demikian, bagaimanakah negeri ini akan baik sebab kebaikan sebuah negeri akan sangat tergantung kepada kebaikan pemimpinnya. Sebuah ungkapan hikmah mengatakan &#8220;ar ro&#8217;iyyatu tahta diini mulukihim yang artinya baik-buruknya rakyat itu terletak dibawah kualitas agama pemimpinnya.<br />
 Maka marilah saudaraku seiman rahimakumullah, kita camkan bahwa kita wajib berfikir masak-masak sebelum menentukan pilihan kita nanti.<br />
 Janganlah nasib kita lima tahun kedepan kita korbankan hanya karena kesalahan yang kita lakukan lima menit saat pemilihan.</p>
<p> Hal yang kedua yang harus kita samakan persepsi kita ; saat ini dihadapan kita sudah ada beberapa pilihan yang akan kita pilih, mereka adalah orang-orang yang mengajukan dirinya untuk dipilih menjadi pemimpin kita. Didalam sistem demokrasi memang diharuskan adanya proses pencalonan dan pengajuan diri untuk meraih jabatan publik.<br />
 Hal ini sesungguhnya tidaklah bertentangan dengan syari&#8217;at Islam yang kita anut, meskipun sering juga sebagian kita berpedoman kepada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim  yang artinya : &#8220;Rasulullah saw bersabda ; &#8220;Demi Allah, aku tidak akan memberikan jabatan kepada orang yang memintanya, apalagi kepada orang yang tamak padanya&#8221;<br />
 Mari kita fahami ini dengan seksama agar kita tidak salah memahami Islam ini sehingga pada  gilirannya akan merugikan kita sendiri karena kita meyakini syari&#8217;at Islam secara tidak pas.<br />
 Sebenarnya perihal seseorang yang meminta jabatan dalam kepemimpinan yang menentukan nasib rakyat pernah terjadi yaitu dilakukan oleh nabi Yusuf as yang kala itu beliau meminta jabatan sebagai bendaharawan negeri Mesir dibawah pemerintahan al Aziz. Hal ini terekam abadi dalam QS Yusuf : 55 yang artinya : &#8220;Berkata Yusuf; jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan&#8221;.<br />
Lantas bagaimanakah kita mengkompromikan antara nash quran ini dengan hadits riwayat Bukhari-Muslim yang memuat larangan meminta jabatan tadi ?<br />
 Menurut ustadz Sayyid Quthb dalam tafsir Fii Zhilaalil Quran bahwa sesungguhnya fikih Islam itu lahir dan tumbuh dalam masyarakat muslim yang bergerak maju dan menghadapi kenyataan hidup yang riil. Bukan fikih Islam yang membentuk masyarakat muslim ini, tetapi masyarakat muslim yang bergerak maju itulah yang menuntut terciptanya hukum Islam. Maksud ungkapan ini adalah bahwa hukum Islam itu lahir dan tumbuh secara bertahap sesuai dengan kebutuhan hajat hidup masyarakat pada zamannya. Fikih islam yang ada dihadapan kita sekarang ini bukanlah kumpulan hukum yang turun sekaligus lalu kehidupan menyesuaikan dengannya, melainkan hukum-hukum itulah yang turun secara bertahap dan waqi&#8217;iy yaitu sesuai dengan kebutuhan pada waktu itu. Karenanya dalam memahami hukum-hukum islam kita wajib memperhatikan konteksnya secara cermat agar kita tidak beranggapan bahwa islam itu adalah sesuatu yang memberatkan karena penuh dengan sekat-sekat yang membatasi. Dan kita jangan terikut-ikut dengan orang yang mengatakan bahwa baju islam itu kekecilan untuk menampung segala aspirasi dan cita-citanya, na&#8217;udzu billa min dzalik&#8230; itu adalah salah satu bentuk sekulerisme berfikir.<br />
 Sesungguhnya hadits Rasulullah tentang larangan meminta jabatan itu terjadi dalam konteks suasana masyarakat waktu itu yang sudah sangat faham tentang hakikat politik dan kepemimpinan yang sesuai denngan syari&#8217;at Allah. Karena ditengah-tengah mereka masih hadir Sang Maha Guru Islam yang mampu memahamkan mereka akan segala apapun permasalahan kehidupan saat itu. Maka umat waktu itu telah begitu faham bahwa kepemimpinan hakikatnya bukanlah tasyrif (kemuliaan) yang harus dibangga-banggakan atau disombongkan, bukan pula sebuah ladang emas berlian yang akan memuaskan ambisi syahwat diri dan kroninya, melainkan sebuah ladang yang wajib dikelola dengan sepenuh kesungguhan dan hasilnya untuk rakyat. Kalaupun mereka mengambil dari sana untuk dirinya itu sesuai dengan hak bagian mereka sesuai syari&#8217;at. Tidak lebih dari itu.<br />
 Kondisi masyarakat waktu itu benar-benar faham bahwa jabatan kepemimpinan adalah sebuah taklif (beban amanah) yang berat dan wajib ditunaikan dengan seksama. Didalamnya penuh dengan pengorbanan untuk kemaslahatan rakyat yang dipimpinnya. Didalamnya terdapat keeikhlasan bekerja yang harus tetap dipelihara. Didalamnya ada kesucian hati dan diri pemimpin yang wajib tetap dijaga. Subhanallah, memimpin sesungguhnya bukan sekedar melampiaskan nafsu syahwat kita terhadap dunia.<br />
 Karenanya boleh jadi ditengah kondisi masyarakat yang berpolitik syari&#8217;ah seperti itu, jabatan jadi tidak menarik lagi, karena tidak menjanjikan kemewahan bagi pribadinya. Dan dalam kondisi demikian jabatan adalah suatu amanah yang diletakkan oleh umat keatas pundak seseorang yang mereka percayai kesholihannya, sementara sang pengemban amanah itupun menerimanyasebagai sebuah tugas dan tanggung jawab untuk melayani pemberi mandatnya yaitu rakyat. Maka manakala ada seseorang yang meminta jabatan pada waktu itu, Rasulullah saw amat tahu (karena beliau dibimbing oleh wahyu) bahwa orang tersebut punya ambisi syahwat dunia semata. Karenanya Rasulullah bersumpah untuk tidak memberikannya.<br />
 Tetapi ikhwatul iman rahimakumullah, pada masyarakat yang jahil terhadap sistem politik syari&#8217;at, dimana mereka memahami bahwa politik hanyalah alat pemuas nafsunya, dimana manusia berlomba-lomba untuk jabatan-jabatan basah untuk memperkaya diri dan kroninya seperti yang terjadi pada masa nabi Yusuf as, maka wajib hukumnya bagi nabi Yusuf untuk mengejar jabatan strategis itu dan menunaikannya sesuai kehendak Allah swt.<br />
 Nah sekarang kembali kepada permasalahan kita. Dalam zaman apa sebenarnya sekarang kita berada ?  Hemat saya saat ini manusia kembali kedalam kondisi awam dan jahil tentang makna dan hakikat politik dan kepemimpinan. Buktinya politik telah menjadi praktek perlombaan pemuasan nafsu diantara para politisi jahil yang semakin lama semakin menebar aroma busuk. Maka dalam kondisi seperti ini kepemimpinan harus direbut oleh para sholihin. Jabatan wajib diberikan kepada orang-orang yang benar-benar faham tentang hakikat memimpin, pengelolaan negeri ini wajib diamanahkan kepada manusia yang faham akan kebersihan dan kebaikan politik sesuai tuntunan tashowwur Robbani.<br />
 Maka saudaraku, ketika kita harus memilih diantara pilihan yang terpampang dihadapan kita. Jadilah orang yang bijak dan arif.<br />
Kita sepakat sekali bahwa mereka itu tidak ada yang sebaik Yusuf as dan zaman inipun sangat berbeda dengan zaman Yusuf as. Kalau kesholihan Yusuf as dan Muhammad saw yang jadi patokan mati, niscaya kita tidak akan punya pilihan sama sekali. Tapi kembali syari&#8217;at kita dengan ushul fikihnya mengajari kita dalam menghadapi pilihan sulit seperti ini kita harus mengambil pilihan yang akhofu dhororon (yang paling ringan keburukannya).<br />
 Masih ada waktu kita untuk kembali menelisik lebih dalam tentang mereka. Jangan malas untuk mencari tahu tentang kebaikan-kebaikan mereka dan jangan tutup mata hati kita terhadap keburukan-keburukan mereka. Pelajarilah rekam jejak kehidupan mereka dan orang-orang terdekatnya. Sebab kebaikan seseorang biasanya tergantung juga kepada baik-tidaknya agama kawan-kawan dekatnya seperti kata Rasulullah saw, &#8220;Seseorang berada diatas agama kawan dekatnya, maka hendaklah setiap kamu berhati-hati dengan siapa kamu berkawan&#8221;<br />
 Bertanyalah kepada pihak-pihak yang faham dan mengerti tentang mereka, berdiskusilah dengan orang-orang yang ikhlas dan objektif dalam menilai, Insya Allah kita akan mendapatkan pilihan yang baik dan Allah mudah-mudahan akan ridho. Meskipun ia pasti tidak akan mampu memuaskan segala harapan kita, tetapi paling tidak Allah tahu apa motifasi kita dalam menentukan pilihan itu.</p>
<p>Allahu a&#8217;lam bish showwab.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aladalah.wordpress.com/26/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aladalah.wordpress.com/26/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aladalah.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aladalah.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aladalah.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aladalah.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aladalah.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aladalah.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aladalah.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aladalah.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aladalah.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aladalah.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aladalah.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aladalah.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aladalah.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aladalah.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aladalah.wordpress.com&amp;blog=2701782&amp;post=26&amp;subd=aladalah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aladalah.wordpress.com/2008/04/11/kepemimpinan-dalam-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a6a1607ec1e30d207c5310b51b58ae81?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">al &#039;adalah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENDENGAR Tapi Tak MENDENGAR</title>
		<link>http://aladalah.wordpress.com/2008/04/06/mendengar-tapi-tak-mendengar/</link>
		<comments>http://aladalah.wordpress.com/2008/04/06/mendengar-tapi-tak-mendengar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Apr 2008 04:43:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>al 'adalah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aladalah.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Barangkali kita pernah mendapati dalam kehidupan sehari-hari kasus seorang ibu memarahi anaknya yang ketika dipanggil menjawab, &#8220;Ya bu,&#8221; tapi ia tidak segera datang menghadap sang ibu. Hingga akhirnya si ibu pun berkata, &#8220;Kamu ini mendengar apa tidak sih?&#8221; Padahal dengan adanya jawab sang anak &#8220;Ya bu,&#8221; si ibu tentunya sudah paham bahwa anaknya itu mendengar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aladalah.wordpress.com&amp;blog=2701782&amp;post=23&amp;subd=aladalah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Barangkali kita pernah mendapati dalam kehidupan sehari-hari kasus seorang ibu memarahi anaknya yang ketika dipanggil menjawab, &#8220;Ya bu,&#8221; tapi ia tidak segera datang menghadap sang ibu. Hingga akhirnya si ibu pun berkata, &#8220;Kamu ini mendengar apa tidak sih?&#8221; Padahal dengan adanya jawab sang anak &#8220;Ya bu,&#8221; si ibu tentunya sudah paham bahwa anaknya itu mendengar panggilannya. Ataupun ada seorang atasan yang memerintahkan kepada karyawannya untuk melakukan pekerjaan tertentu, lalu dijawab oleh sang karyawan, &#8220;Baik pak,&#8221; tetapi tugas tersebut tidak segera dilakukan, hingga tak mengherankan jika keluar ungkapan dari sang atasan, &#8220;Anda ini mendengar apa tidak?&#8221;</p>
<p>Mendengarkan dan Taat<br />
<span id="more-23"></span><br />
Allah subhanallahu wata&#8217;ala mengaruniakan kepada kita telinga dengan fungsi untuk mendengarkan, sehingga dengan mendengar itu seseorang tahu apa yang harus dia lakukan dalam kehidupan ini. Seperti dalam kasus di atas, sang anak atau karyawan tentunya bukanlah orang yang tuli, bahkan memiliki pendengaran (telinga ) yang normal. Tetapi ternyata pendengaran yang dia miliki tersebut tidak dengan serta merta menjadikannya merespon serta menanggapi kalimat yang telah dia dengar itu. Maka dari sini dapat dikatakan bahwa yang dikehendaki dari mendengarkan bukanlah semata-mata mendengar suara, tetapi mendengar dengan disertai pemahaman dan kemauan mengikuti apa yang dia dengar itu.</p>
<p>Dalam istilah syara&#8217; mendengar yang disertai pemahaman dan kemauan untuk mengikuti apa yang dia dengar disebut dengan taat, sam&#8217;an watha&#8217;atan, sami&#8217;na wa atha&#8217;na. Oleh karena itu Allah subhanahu wata&#8217;ala sangat mencela orang yang diberikan telinga (pendengaran) normal tetapi dia justru berpaling, tidak mau mendengar kan dan menaati seruan Allah dan rasul-Nya, Allah subhanahu wata&#8217;ala berfirman, &#8220;Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling daripada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintahnya).&#8221; (QS. al-Anfal: 20)</p>
<p>Makna ayat ini adalah bahwasanya Allah subhanahu wata&#8217;ala menyeru hamba-hambaNya kaum mukminin yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, yang membenarkan janji dan ancaman-Nya pada hari Kiamat dengan memerintahkan mereka supaya taat kepada Allah dan taat kepada Rasul-Nya. Dan juga melarang mereka dari berpaling padahal mereka mendengarkan ayat-ayat yang dibacakan serta nasehat-nasehat yang disampaikan berulang ulang dalam Kitabullah dan melalui lisan Rasul-Nya saw. Yang demikian ini disebabkan karena pertolongan dan bantuan dari Allah adalah merupakan buah dari ketaatan yang mereka lakukan. Jika seandainya mereka itu berpaling dan bermaksiat, meninggalkan sikap wala&#8217; (loyal) kepada Allah subhanahu wata&#8217;ala, maka tentu mereka tidak ada bedanya dengan orang-orang lain dari kalangan kaum kafir dan ahli maksiat. (Aisar at-Tafasir hal 436-437).</p>
<p>Mendengar Tapi Tidak Mendengar<br />
Orang yang mendengar seruan Allah subhanahu wata&#8217;ala tetapi ia berpaling dan tidak mau menaatinya, maka jelas ada yang tidak beres dalam dirinya. Lain halnya jika disebabkan karena kebodohan, ketidaktahuan atau kekeliruan dalam memahami suatu perintah dan seruan, maka ia tidak disebut dengan berpaling. Seseorang dikatakan berpaling jika dia enggan dan menolak sebuah ajakan, perintah dan seruan sedangkan ia mengerti apa yang dimaksudkan dari seruan itu. Jadi dalam hal ini bukanlah telinga/indera pendengaran mereka yang tuli, tetapi hati dan akal mereka. Maka orang yang seperti ini dikatakan oleh Allah subhanahu wata&#8217;ala sebagai orang yang &#8220;mendengar tapi tidak mendengar&#8221;. Mereka mendengarkan ayat-ayat dan seruan Allah subhanahu wata&#8217;ala dengan telinga mereka namun akal dan hati mereka tertutup tak mau mendengarkan, sehingga tidak dapat mengambil manfaat dan faidah dari apa yang mereka dengar itu. Allah subhanahu wata&#8217;ala befirman, &#8220;Dan janganlah kamu menjadi sebagaimana orang-orang (munafik) yang berkata, &#8220;Kami mendengarkan, padahal mereka tidak mendengarkan.&#8221; (QS. al-Anfal:21)</p>
<p>Dalam ayat di atas, Allah subhanahu wata&#8217;ala melarang kaum muslimin mengikuti jalannya orang-orang kafir, musyrik dan munafik dalam hal ketulian mereka dari mendengarkan ayat-ayat yang mengajak mereka kepada kebenaran dan menyeru kepadanya. Juga bersikap menutup mata (berlagak buta) dari melihat ayat-ayat Allah yang menunjukkan kepada ketauhidan terhadap Allah subhanahu wata&#8217;ala. Mereka mengatakan, &#8220;Kami tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Muhammad, dan dari apa yang dia sebutkan dan dia isyaratkan kami tidak melihatnya.&#8221; Mereka juga mengatakan, &#8220;Kami mendengarkan dengan telinga-telinga kami,&#8221; tetapi mereka tidak mendengar kan dengan hati mereka. Ini disebabkan karena mereka tidak mau mentadabburi dan memikirkannya, sehingga meskipun mereka mendengar tetapi mereka sama halnya dengan orang yang tidak mendengar. Dalam hal ini &#8216;ibrah (yang menjadi acuan atau ukuran) adalah as-sima&#8217; al intifa&#8217; (pendengaran yang memberikan manfaat), bukan semata-mata mendengarkan suara dengan telinga. (Aisar at-Tafasir hal. 437)</p>
<p>Seburuk-buruk Makhluk<br />
Sikap mendengar tapi tidak mendengarkan ini rupanya masih banyak menimpa sebagian kaum muslimin saat ini. Berapa banyak ayat-ayat yang mereka dengar tentang haramnya judi, riba, minuman keras, dan lain-lain tetapi ternyata semua jenis kemaksiatan itu tetap jalan terus seakan ayat-ayat tersebut tak pernah mereka dengar. Berapa banyak mereka mendengarkan panggilan hayya &#8216;alash shalah (mari kita shalat), namun mereka tetap tak bergeming sedikit pun dari kesibukan dunia mereka, seakan-akanpanggilan shalat itu hanyalah sekedar suara sebagaimana halnya suara-suara lainnya. Jika mereka adalah orang yang memang tuli (telinganya tidak berfungsi), maka bisa dimaklumi apabila ketika adzan dikumandangkan mereka tidak mendatanginya. Tapi ini tidak demikian, telinga mereka berfungsi normal, kaki mereka juga tidak cacat, dan mereka dalam keadaan sehat wal afiat dan sejahtera. Apakah mereka akan menunggu sampai tiba suatu waktu di mana mereka tak mampu lagi untuk bersujud, sebagaimana firman Allah, artinya,  &#8220;Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah,<br />
lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera.&#8221; (QS. al-Qalam: 42-43).</p>
<p>Orang-orang yang tuli lagi pekak ini dikatakan oleh Allah sebagai &#8220;Syarra ad-dawab&#8221; seburuk-buruk makhluk melata di muka bumi -na&#8217;udzu billah min dzalik-, seperti yang disebutkan dalam firman-Nya, artinya, &#8220;Sesungguhnya binatang (mahluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah<br />
ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apa pun. Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadi kan mereka dapat mendengar. Dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedangkan mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka-mereka dengar itu).&#8221; (QS. al-Anfal: 22-23)</p>
<p>Memang demikianlah keadaan mereka, Allah subhanahu wata&#8217;ala menegaskan bahwa mereka dikatakan tuli dan pekak bukan karena telinga mereka tuli (tuna rungu), tapi disebabkan mereka adalah orang-orang yang tidak berakal,. Perhatikanlah firman Allah subhanahu wata&#8217;ala ketika menyifati orang-orang yang pekak dan tuli, yakni orang-orang yang tidak mengerti apa-apa pun, yang dalam teks ayat disebut dengan &#8220;la ya&#8217;qilun&#8217; akalnya tidak berfungsi. Bagaimana mereka dikatakan orang yang berakal sedangkan mereka tidak mengenal siapa dirinya, siapa penciptanya, enggan bersyukur dan bersujud kepada penciptanya, tidak mau menaati-Nya, bahkan justru berpaling dari-Nya. Jadi mereka itu dihidupkan oleh Allah subhanahu wata&#8217;ala, hanyalah untuk makan, tidur dan memuaskan hawa nafsu serta syahwat belaka, tidak mau melaksanakan fungsi utama dan terbesar mereka diciptakan, yakni untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah subhanahu wata&#8217;ala.</p>
<p>Solusi Penyembuhan<br />
Para ulama membagi hati manusia menjadi tiga klasifikasi, yakni qalbun salim (hati yang sehat), qalbun maridh (hati yang sakit) dan qalbun mayit (hati yang mati). Hati yang sehat senantiasa merespon setiap seruan yang datang dari Allah dan rasul-Nya, sedangkan hati yang sakit adalah hati yang kadangkala antusias menyambut seruan Allah subhanahu wata&#8217;ala namun sering kali juga dikalahkan oleh syahwat dan hawa nafsu, jatuh bangun dan pasang surut dalam melakukan ketaatan, bahkan bisa jadi suatu ketika terpuruk dalam kemaksiatan. Adapun hati yang mati maka ia adalah hati yang terkunci dan sangat sulit menerima petunjuk kebaikan, kecuali jika Allah subhanahu wata&#8217;ala berkehendak.  Terapi dan solusi untuk menjadikan akal dan hati kita selalu hidup, sehat dan berfungsi dengan baik tidak lain adalah &#8220;dengan memenuhi setiap panggilan Allah dan Rasul-Nya&#8221;. Allah swt berfirman dalam kelanjutan ayat di atas, artinya, &#8220;Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.&#8221; (QS.<br />
al-Anfal:24)</p>
<p>Yakni dengan menanamkan kesadaran bahwasanya perintah-perintah Allah subhanahu wata&#8217;ala termasuk juga larangan-Nya tidak akan lepas dari apa yang dapat memberikan kehidupan bagi orang mukmin, atau menambah (kebaikan) dalam hidupnya atau memberikan penjagaan kepada mereka. Oleh karena itu wajib bagi seorang mukmin untuk menaati Allah dan Rasul-Nya semaksimal mungkin. Ayat ini juga menunjukkan bahwa orang-orang kafir dan jahil adalah orang yang mati secara maknawi. Sehingga dapat dikatakan bahwa dengan iman dan ilmu terdapat kehidupan dan sebaliknya tanpa keduanya maka itu berarti kematian, walaupun jasad-jasad mereka masih hidup. (Aisar at-Tafasir hal 438). Atau dengan istilah lain &#8220;Mati dalam kehidupan dan hidup dalam kematian&#8221;.  (oleh: Kholif Abu Ahmad)</p>
<p>Sumber :  Aisar at-Tafasir<br />
<a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatannur&amp;id=459">http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatannur&amp;id=459</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aladalah.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aladalah.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aladalah.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aladalah.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aladalah.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aladalah.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aladalah.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aladalah.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aladalah.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aladalah.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aladalah.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aladalah.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aladalah.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aladalah.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aladalah.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aladalah.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aladalah.wordpress.com&amp;blog=2701782&amp;post=23&amp;subd=aladalah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aladalah.wordpress.com/2008/04/06/mendengar-tapi-tak-mendengar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a6a1607ec1e30d207c5310b51b58ae81?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">al &#039;adalah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berpikirlah, Karena Anda Masih Hidup</title>
		<link>http://aladalah.wordpress.com/2008/03/07/berpikirlah-karena-anda-masih-hidup/</link>
		<comments>http://aladalah.wordpress.com/2008/03/07/berpikirlah-karena-anda-masih-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Mar 2008 17:41:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>al 'adalah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aladalah.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Berpikir adalah sesuatu hal yang selalu kita lakukan. Setiap saat kita selalu berpikir tentang apa saja yang kita pikirkan. Kita berpikir tentang diri kita, cita-cita kita, kebutuhan kita, kesenangan kita, keluarga kita, anak-anak kita, masa depan kita, jabatan kita, dan banyak lagi yang kita pikirkan yang hanya kita sendiri yang tahu. Semua yang kita pikirkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aladalah.wordpress.com&amp;blog=2701782&amp;post=21&amp;subd=aladalah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://aladalah.files.wordpress.com/2008/03/067.jpg?w=200&#038;h=140" alt="Berpikirlah..." align="left" border="1" height="140" hspace="5" vspace="0" width="200" />Berpikir adalah sesuatu hal yang selalu kita lakukan. Setiap saat kita selalu berpikir tentang apa saja yang kita pikirkan. Kita berpikir tentang diri kita, cita-cita kita, kebutuhan kita, kesenangan kita, keluarga kita, anak-anak kita, masa depan kita, jabatan kita, dan banyak lagi yang kita pikirkan yang hanya kita sendiri yang tahu. Semua yang kita pikirkan rata-rata masalah dunia, masalah kehidupan dunia, jarang kita berpikir tentang masalah akhirat. Kadang kita bisa berpikir masalah akhirat setelah Allah membelai kita atau menegur kita dengan ujian-Nya, yang kadang ujian itu pun tidak membuat kita sadar, yang ada hanya beban berat yang kita hadapi dan frustrasi akhirnya.</p>
<p>Berpikir adalah bagian dari kehidupan kita, dan bisa jadi sebagai tanda dari kehidupan kita. Kita bisa dikatakan masih hidup ketika kita masih bisa berpikir. Kita akan mendapatkan ilmu pengetahuan, wawasan kita luas, sampai bisa menembus langit sekalipun itu semua karena hasil dari berpikir. Dunia dan akhirat akan kita dapatkan dengan berpikir. Barang siapa menginginkan dunia harus dengan ilmu. Barang siapa menginginkan akhirat harus dengan ilmu. Dan barang siapa menginginkan dunia dan akhirat juga harus dengan ilmu, dan ilmu itu kita dapat dari hasil berpikir. Banyak sinyalemen-sinyalemen yang Allah berikan kepada kita semua untuk kita pikirkan, karena sinyalemen yang Allah berikan itu merupakan hudan atau petunjuk bagi kita semua didalam menempuh perjalanan hidup ini.</p>
<p>“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shaad (38): 29)</p>
<p>“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. Al-Baqarah (2): 164)</p>
<p>Sinyalemen-sinyalemen yang Allah berikan kepada kita itu terdapat dalam Al-Qur&#8217;an dan juga di alam semesta ini, yang semuanya harus kita pikirkan untuk menghasilkan ilmu, sehingga kita akan semakin mengerti sedalam yang kita pahami. Dan perlu kita pahami pula bahwa, diantara tanda-tanda kebahagiaan dan keberhasilan itu adalah semakin ilmu itu bertambah maka akan bertambah pula kerendahan hati dan rasa belas kasihnya. Seperti mutiara yang mahal, semakin nilainya bertambah besar maka semakin dalam tempatnya di dasar laut. Dan, orang yang bijaksana akan menyadari bahwa ilmu itu adalah anugerah, yang dengan itu Allah mengujinya. Jika ia mensyukurinya dengan sebaik-baiknya maka Allah akan mengangkat derajatnya.</p>
<p>“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah (58): 11)</p>
<p>Ada sebuah nasihat dari jumhur ulama yang tercatat dalam kitabnya Ibnu Hajar Al-Asqalani yang berjudul “Nashaihul Ibad” di halaman ke 164 Makalah ke lima belas, yang bisa dipakai sebagai rujukan dalam berpikir.</p>
<p>Jumhur Ulama mengatakan, sesungguhnya berpikir itu dalam 5 hal, yaitu :</p>
<p>1. Berpikir mengenai tanda-tanda yang menunjukkan kekuasaan Allah, sehingga lahir tauhid dan keyakinan kepada Allah.</p>
<p>2. Berpikir mengenai kenikmatan-kenikmatan yang telah Allah berikan, sehingga lahir rasa cinta dan syukur kepada Allah.</p>
<p>3. Berpikir tentang janji-janji Allah, sehingga lahir rasa cinta kepada akhirat.</p>
<p>4. Berpikir tentang ancaman Allah, sehingga lahir rasa takut kepada Allah.</p>
<p>5. Berpikirlah tentang sejauh mana ketaatannya kepada Allah, padahal Allah selalu berbuat baik kepadanya, sehingga lahir kegairahan dalam beribadah.</p>
<p>Dan sebagian ulama ahli makrifat mengatakan, “Berpikir itu bagaikan pelita hati, apabila daya berpikir itu hilang, maka hilanglah cahaya baginya.”</p>
<p>Maka, berpikirlah, karena dengan berpikir kita bisa keluar dari segala sesuatu yang membingungkan. Wallahu A&#8217;lam.</p>
<p>Sumber : http://www.jkmhal.com/main.php?sec=content&amp;cat=8&amp;id=7645</p>
<p><b><font color="#008000">Edisi Cetak : No. 18/Thn-8/2008, 15  Shafar  1429 H</font></b></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aladalah.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aladalah.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aladalah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aladalah.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aladalah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aladalah.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aladalah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aladalah.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aladalah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aladalah.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aladalah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aladalah.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aladalah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aladalah.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aladalah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aladalah.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aladalah.wordpress.com&amp;blog=2701782&amp;post=21&amp;subd=aladalah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aladalah.wordpress.com/2008/03/07/berpikirlah-karena-anda-masih-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a6a1607ec1e30d207c5310b51b58ae81?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">al &#039;adalah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aladalah.files.wordpress.com/2008/03/067.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Berpikirlah...</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketenangan Orang-Orang yang Beriman</title>
		<link>http://aladalah.wordpress.com/2008/02/19/ketenangan-orang-orang-yang-beriman/</link>
		<comments>http://aladalah.wordpress.com/2008/02/19/ketenangan-orang-orang-yang-beriman/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Feb 2008 14:16:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>al 'adalah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Amal Sholih]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Yakin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aladalah.wordpress.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[Di dalam kehidupan ini kita akan banyak menemui bermacam-macam permasalahan, kesulitan dan cobaan. Hal-hal yang kita alami tersebut kadangkala datang dari lingkungan sekitar tempat tinggal, lingkungan perkejaan, keluarga dll. Untuk menghadapi dan menyelesaikan permasalahan itu semua tentu dibutuhkan suatu sikap yang tenang agar segala sesuatunya dapat terselesaikan dan berjalan dengan baik sehingga tidak menzholimi orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aladalah.wordpress.com&amp;blog=2701782&amp;post=19&amp;subd=aladalah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://aladalah.files.wordpress.com/2008/02/aladalah2.jpg?w=213&#038;h=159" alt="Foto by Khairul RM100" align="left" height="159" hspace="5" vspace="0" width="213" />Di dalam kehidupan ini kita akan banyak menemui bermacam-macam permasalahan, kesulitan dan cobaan. Hal-hal yang kita alami tersebut kadangkala datang dari lingkungan sekitar tempat tinggal, lingkungan perkejaan, keluarga dll. Untuk menghadapi dan menyelesaikan permasalahan itu semua tentu dibutuhkan suatu sikap yang tenang agar segala sesuatunya dapat terselesaikan dan berjalan dengan baik sehingga tidak menzholimi orang lain.</p>
<p>Ternyata, permasalahan dan cobaan ini juga merupakan ujian yang datangnya dari Allah sebagai Penguji keimanan bagi hamba-hambaNya. Firman Allah dalam suroh Al Ankabut ayat 2 &amp; 3 yang artinya:<br />
&#8220;Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan &#8220;Kami telah beriman&#8221;, sedang mereka tidak diuji lagi?.&#8221; &#8220;Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan orang-orang yang dusta&#8221;.<span id="more-19"></span></p>
<p>Keberimanan seseorang tidak hanya sekedar lips service (pemanis bibir) tetapi bukti nyata juga dibutuhkan, dengan cara berbagai sikap untuk mengatasi permasalahan yang ada di sekitar kita, apakah sesuai dengan ketentuan Allah atau malah sebaliknya dalam penyelesaian masalah tersebut kita melanggar segala perintah-Nya.</p>
<p>Kita juga bisa melihat kisah perjalanan para salafus sholih dalam menghadapi berbagai persoalan hidup di sekitar mereka, ada yang harus ditinggalkan keluarganya, kehilangan harta benda, dipenjara bahkan kehilangan nyawa, namun mereka tetap tenang dan sabar dalam menjalaninya, sehingga tidak menjauhkan diri mereka dari Sang Pencipta, Penggenggam segala jiwa.</p>
<p>Agar ketenangan tersebut menjadi milik kita, maka ada beberapa hal yang harus kita tanamkan pada diri yaitu:</p>
<p>1. Yakin dengan kebenaran Allah tanpa ada keraguan lagi.</p>
<p>Kita harus yakin bahwa segala sesuatu di bumi ini adalah milik Allah, tidak ada kekuatan selain kekuatan dan mutlak kekuasaan Allah semata, dan segala persoalan yang ada pasti Allah akan memberikan jalan keluarnya. Allah akan memberikan rezki dari arah yang tak terduga dan Allah akan memberikan jalan keluar bagi orang-orang yang bertaqwa. Ingat !!! Janji Allah pasti, tiada keraguan lagi. Allah maha menepati janji, jadi hanya kepadaNya-lah kita meminta dan memohon perlindungan.</p>
<p>2. Ikhlas dan Sabar</p>
<p>Keikhlasan dan kesabaran kita dalam menjalani kehidupan ini, baik susah maupun senang akan sangat membantu jiwa kita menghadirkan ketenangan dalam menyelesaikan persoalan hidup. Maka jadikanlah sabar dan sholat itu sebagai penolongmu (Al Baqoroh ayat 45). Insya Allah dengan keikhlasan dan kesabaran akan memudahkan kita menapaki kehidupan ini.</p>
<p>3. Akhlak yang baik</p>
<p>Akhlak yang baik juga sangat membantu kita menghadapi persoalan yang berkaitan dengan orang lain, misalnya tetangga, keluarga dan rekan kerja. Karena akhlak yang baik merupakan cerminan baiknya keimanan seseorang. Jadi, lemah-lembutlah bertutur kata, jauhi sikap menyakiti orang lain, hormatilah yang tua dan sayangi yang muda, hargailah setiap orang dan letakkan setiap orang pada tempatnya, rendahkan hati dan jauhi kesombongan dalam bersikap dan bertutur kata, balaslah keburukan dengan kebaikan, insya Allah Anda akan disayangi, dihargai setiap orang bahkan lawan pun akan menjadi kawan. Itulah yang diajarkan oleh Islam.</p>
<p>4. Mau  melaksanakan  amanah  dan Allah,  Rosul serta manusia &#8211; manusia beriman.</p>
<p>Mau melaksanakan semua perintah Allah dan RosulNya membuktikan kita adalah orang yang amanah dalam mengemban ajaran yang dibawa oleh Rosulullah saw. Serta melaksanakan amanah dari pemimpin / orang-orang beriman bukti sikap loyal kita pada ajaran Islam. Begitu banyak ayat-ayat yang mengatakan &#8220;Taatilah Allah dan Rosulnya dan ulil amri diantara kamu&#8230;.&#8221; (An Nisa ayat  59).</p>
<p>5. Amal sholih</p>
<p>Mau melakukan segala perbuatan baik merupakan amal sholih kita, walau sekecil apapun.<br />
Orang-orang yang beriman dan beramal sholeh akan mendapatkan ampunan dari Allah sehingga keridhoan Allah menyertainya hingga akhirnya mendapatkan balasan syurga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai dan mereka kekal di dalamnya (An Nisa ayat 57).</p>
<p>Hal &#8211; hal inilah yang harus kita jadikan motivasi kuat dalam beraktivitas dan menjalani sisa-sisa waktu kita yang masih Allah berikan dengan sebaik-baiknya agar ketenangan orang-orang beriman selalu mewarnai diri dan setiap langkah kaki kita.  Amin</p>
<div align="center">&#8220;Teruslah berjuang sampai akhir hayat, hingga kita kembali ke dalam<br />
pangkuanNya&#8221;</div>
<div align="left"></div>
<div align="left"><font color="#008000"><font color="#33cccc">Oleh : <b>Jamaliah Ismail </b><br />
Guru Sekolah Dasar Islam Terpadu Al-Ihya<br />
Tanjung Gading</font> </font></div>
<p><font color="#339966"><b>[Edisi cetak No.17/Thn-8/2008  - 1 Syafar 1429H]</b></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aladalah.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aladalah.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aladalah.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aladalah.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aladalah.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aladalah.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aladalah.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aladalah.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aladalah.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aladalah.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aladalah.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aladalah.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aladalah.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aladalah.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aladalah.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aladalah.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aladalah.wordpress.com&amp;blog=2701782&amp;post=19&amp;subd=aladalah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aladalah.wordpress.com/2008/02/19/ketenangan-orang-orang-yang-beriman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a6a1607ec1e30d207c5310b51b58ae81?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">al &#039;adalah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aladalah.files.wordpress.com/2008/02/aladalah2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Foto by Khairul RM100</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TAHUN BARU HIJRIAH</title>
		<link>http://aladalah.wordpress.com/2008/02/03/tahun-baru-hijriah/</link>
		<comments>http://aladalah.wordpress.com/2008/02/03/tahun-baru-hijriah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Feb 2008 17:00:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>al 'adalah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[hijriah]]></category>
		<category><![CDATA[masehi]]></category>
		<category><![CDATA[miladiyah]]></category>
		<category><![CDATA[muharram]]></category>
		<category><![CDATA[qomariyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aladalah.wordpress.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[DISAAT MUHARAM MULAI DILUPAKAN… Inilah tahun baru ummat Islam. Dari sinilah pergiliran waktu dimulai setiap tahunnya sebagai kebanggaan milik ummat Islam. Sementara ini kita mungkin lebih mengenal tahun masehi atau bulan-bulan miladiyah di dalamnya (Januari &#8211; Desember ) dari pada tahun hijriyah atau bulan-bulan qomariyah di dalamnya (Muharrom-Dzulhijjah). Seyogyanya setiap orang bangga dengan miliknya sendiri, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aladalah.wordpress.com&amp;blog=2701782&amp;post=4&amp;subd=aladalah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://aladalah.files.wordpress.com/2008/02/237.png?w=75&#038;h=113" align="left" border="1" height="113" hspace="5" vspace="0" width="75" /><b>DISAAT MUHARAM MULAI DILUPAKAN…</b></p>
<p>Inilah tahun baru ummat Islam. Dari sinilah pergiliran waktu dimulai setiap tahunnya sebagai kebanggaan milik ummat Islam. Sementara ini kita mungkin lebih mengenal tahun masehi atau bulan-bulan miladiyah di dalamnya (Januari &#8211; Desember ) dari pada tahun hijriyah atau bulan-bulan qomariyah di dalamnya (Muharrom-Dzulhijjah).<span id="more-4"></span></p>
<p>Seyogyanya setiap orang bangga dengan miliknya sendiri, bukan dengan milik orang lain. Penanggalan hijriyah ini merupakan satu di antara sekian banyak khazanah ummat Islam yang ditinggalkan pemeluknya sendiri &#8220;Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah 12 bulan dalam ketetapan (Kitab) Allah, sejak hari Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya terdapat empat bulan hurum…&#8221; (Q.S. At Taubah : 36)</p>
<p>Dua belas bulan tersebut adalah:<br />
1. Muharrom<br />
2. Shafar<br />
3. Robi&#8217;ul Awwal<br />
4. Robi&#8217;ul Akhir<br />
5. Jumadil Awwal<br />
6. Jumadil Akhir<br />
7. Rajab<br />
8. Sya&#8217;ban<br />
9. Romadlon<br />
10.Syawal<br />
11.Dzul Qa&#8217;dah<br />
12.Dzul Hijjah</p>
<p>MENGAPA TAHUN HIJRIYAH KURANG POPULER DI KALANGAN UMMAT ISLAM SENDIRI?<br />
Idealnya ummat Islam mengetahui, hafal berikut tahu tanggal setiap harinya. Kalau kita perhatikan, ada beberapa faktor mengapa tahun masehi lebih populer dari pada tahun hijriyah:<!--more--><br />
1. &#8216;Konspirasi&#8217; Internasional<br />
Dipakainya tahun masehi dan bulan-bulan miladiyah di dalamnya sebagai standard internasional tidak terlepas dari kenyataan bahwa sekarang ini barat sedang menguasai dunia dalam segala bidang. Ummat islam, sadar maupun tidak harus mengikutinya. Ia dipakai di semua sektor kehidupan manusia; lembaga-lembaga pemerintah maupun swasta, bidang perekonomian, bisnis, dsb. Ini menunjukkan bahwa kekuasaan dunia sekarang memang sedang berada di tangan mereka, sementara ummat islam lebih banyak berperan sebagai penonton ketimbang pelaku. Sepintas seakan tidak ada korelasi antara keduanya, namun jika kita teliti lebih jauh semua bermuara ke arah sana. Kondisi ini memaksa ummat islam mengikuti sistem yang ada yang dengan perlahan namun pasti berubah menjadi tradisi dalam kehidupan ummat islam sendiri dankemudian menanggalkan miliknya sendiri. Di sinilah hukum sosial (sunnatullah atas masyarakat) berlaku yang kalah akan mengikuti yang menang dan sebaliknya.</p>
<p>2. Inferiority complex<br />
Identitas &#8216;simbol-simbol&#8217; addien (agama) mulai luntur dari pemeluknya sendiri dan lebih senang berbaur dengan memakai identitas orang lain. Ummat Islam kebanyakan tidak berani menampakkan jati dirinya sebagai pemeluk agama islam. Sudah tipis kalau tidak disebut tidak ada lagi rasa bangga dengan agamanya. Memang, penyakit inferiority complex ini semakin banyak mewabah seiring dengan lemahnya posisi ummat islam dalam percaturan politik internasional. Istilah-istilah dalam khazanah keislaman termasuk masalah tahun hijriyah dan bulan-bulan qamariyah di dalamnya ini merupakan sebagian kecil identitas kita yang mulai dilupakan. Memang ini bukan hal yang paling prinsip, tetapi apa pun yang namanya identitas itu jelas perlu. Hal lain yang perlu kami singgung di sini dalam kaitannya dengan masalah identitas ini adalah bahwa sebagian kita merasa malu kalau terlihat membawa kitab sucinya ke tempat pengajian (mungkin karena tidak bisa membacanya), malu menutup auratnya (baca: jilbab), malu jika tidak punya pasangan (baca: pacar) karena dianggap tidak laku, dsb. Perasaan malu atau minder dalam menampilkan identitas keislamannya bisa jadi disebabkan karena ia memang pada banyak segi tidak siap untuk dikatakan sebagai muslim yang sebenarnya karena melihat dirinya sendiri yang sering melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama atau sering meninggalkan perintah agama.Mumpung masih muda, begitu mungkin ujarnya. Dan sesungguhnya (ternyata) akar masalah tersebut adalah masalah keimanan. Kondisi ini diperparah dengan image masyarakat bahwa seorang muslim yang berani menampakkan jati dirinya sering dianggap kolot, kampungan, out-of date dan sebutan-sebutan lain yang mengarah pada sebuah penilaian bahwa identitas islam (kembali) terasa asing untuk ditampilkan bukan hanya bagi/dalam kalangan non islam, melainkan juga bagi pemeluknya sendiri. Maka, benarlah sebuah gejala masyarakat yang pernah diprediksi olehRosulullah SAW bahwa: &#8220;Islam bermula datang dalam keadaan asing dan (suatu saat nanti) akan kembali asing seperti semula. Maka berbahagialah orang-orang yang asing tersebut&#8221; (HR. Thabrani).</p>
<p>3. Pendidikan agama<br />
Bagaimanapun orang tua memainkan peranan terpenting dalam turut mencetak &#8216;corak warna&#8217; bagi putra-puterinya kelak, memberikan pendidikan dan pemahaman agama sejak dini. Tetapi sayangnya saat ini orang tua sudah jarang yang memperhatikan masalah ini. Bagaimana mereka akan mampu memberikan pendidikan agama sejak dini kepada putera-puterinya, lha wong mereka sendiri juga punya masalah yang sama, mereka juga banyak yang buta pemahamannya dalam masalah agama. Oleh karena itu tugas ini sesungguhnya menjadi PR bagi generasi selanjutnya, ya.. kita semua dan anak-cucu kita. Kesempatan yang masih ada sebelum kemudian kita disibukkan setelah menjadi Bapak/ Ibu bagi putera puteri kita nanti marilah kita pergunakan untuk menimba ilmu agama dengan sebaik-baiknya. Dunia kerja bukanlah alasan bagi terhentinya menuntut ilmu. Insya Allah masih banyak waktu luang yang bisa kita pergunakan untuk itu. Sepulang dari kerja, atau saat liburan adalah waktu-waktu yang bisa kita pergunakan, jangan hanya dipakai untuk hal-hal yang tidak bermanfaat semisal nonton TV terus, atau ngerumpi dsb. Mari kita isi dengan belajar, membaca buku-buku, mengaji, dsb. Sarana untuk itu telah ada. Perpustakaan masih kurang pembacanya. Orang tua kita yang mungkin tidak sempat memberikan pendidikan secara optimal janganlah kita jadikan kambing hitam sementara diri kita memang malas dan sering membantah nasehat mereka.</p>
<p>4. Lingkungan<br />
Lingkungan sangat kuat pengaruhnya dalam membentuk identitas pribadi seseorang. Lingkungan yang biasa tidak memperhatikan identitas Islam akan cenderung mewarnai komunitas di dalamnya dengan identitas yang bukan Islami pula.</p>
<p>DAMPAK DITINGGALKANNYA PENGGUNAAN TAHUN HIJRIYAH<br />
Minimnya perhatian kaum muslimin terhadap bulan Hijriyah ini seakan tampak sebagai hal yang sepele. Tetapi kalau kita ikuti dengan seksama hal ini dapat menimbulkan hal-hal yang yang tidak remeh. Ekses yang bisa timbul di antaranya adalah:<br />
1. Hilangnya Identitas Islam<br />
Ini jelas sekali terasa sekarang ini. Ummat Islam lebih suka meniru identitas &#8216;Barat&#8217; yang terbukti banyak merusak. Padahal Rasulullah SAW selalu berpesan agar kaum muslimin berbeda dengan orang-orang yahudi dannasrani dalam segala hal sebagaimana disebutkan dalam banyak riwayat, di antaranya.Berbedalah kalian dengan orang &#8211; orang Yahudi.&#8217; (HR. Ahmad).<br />
Akibat yang lebih kentara dalam fakta sekarang adalah bahwa kaum muslimin sering ikut-ikutan dalam perayaan-perayaan tahun masehi yang diisi dengan kegiatan-kegiatan yang merugikan. Pada malam tahun baru masehi dunia serentak menggelar acara-acara heboh seperti : mengunjungi tempat-tempat hiburan (baca: maksiat), diskotik, pagelaran musik semalam suntuk, dll. Padahal jelas aktifitas semacam ini sangat bertentangan dengan ajaran agama islam. Yang lebih mengherankan lagi mereka bukan saja menjadi objek dalam acara-acara tersebut, melainkan juga menjadi subyek. Kalangan artis muslim –yang memang setiap harinya bergelimang dengan acara-acara sejenis– pada musim tahun baru lebih-lebih dijadikan sebagai lahan subur dalam menuai rezeki. Dari sudut pandang aktifitasnya jelas mengandung maksiat yang nyata, dan dari segi penggunaan harta, mereka telah menghambur-hamburkan uang, berlebih-lebihan yang juga bertentangan dengan ajaran islam apalagi dalam kondisi krismon sekarang ini.</p>
<p>2. Ditinggalkannya Sunnah-sunnah Rasul<br />
Lunturnya pemahaman kaum muslimin terhadap bulan-bulan Qomariyah dalam tahun Hijriyah, diikuti dengan ditinggalkannya sunnah-sunnah Rasulullah SAW dalam menilai dan memanfaatkan waktu-waktu tertentu dalam hitungan Qomariyah Hijriyah sebagai eksesnya.<br />
Dalam skala tahun, ada bulan Ramadlan sebagai bulan yang paling utama dan di dalamnya terdapat Lailatul-Qadar sebagai malam paling utama yang nilainya lebih baik dari seribu bulan (QS. 97: 1-5). Dalam skala tahun juga terdapat 4 bulan sebagai bulan &#8216;Hurum&#8217; (kata hurum adalah bentuk jamak dari kata haram). Maksudnya adalah bahwa pada bulan-bulan tersebut Diharamkan melakukan peperangan dan atau mendholimi diri sendiri. Keterangan ini sebagimana kelanjutan dari potongan ayat ke-36 dari surah At-Taubah ..Maka janganlah kalian berbuat dholim terhadap diri kalian…. Sedangkan bulan harum tersebut yaitu Muharram, Rajab, Dzulqa&#8217;dah, dan Dzulhijjah. Dalam skala bulan terdapat beberapa hari utama misalnya setiap tanggal 13, 14, 15 di mana kita disunnahkan berpuasa. Demikian pula puasa sunnah dianjurkan pada tanggal 10 Muharrom (hari &#8216;asyura&#8217;), 6 hari di bulan Syawal, tanggal 10 Dzul Hijjah (hari Arafah), dsb. Dalam seminggu ada hari Jum&#8217;at sebagai hari paling mulia kaum muslimin berkumpul untuk melaksanakan sholat Jum&#8217;at-, hari Senin dan Kamis yang disunnahkan berpuasa. Kemudian dalam sehari semalam ada waktu-waktu utama misalnya sepertiga malam terakhir yang dianjurkan untuk menghidupkannya dengan qiyamul-lail. Dalam waktu-waktu utama itu kita dianjurkan untuk lebih memperhatikan amalan-amalan yang disunnahkan.<br />
Semua amal yang harus diperhatikan di atas terkait dengan hitungan waktu dalam tahun Hijriah atau bulan Qomariyah, bukan dalam tahun masehi/bulan miladiyah.<br />
Ternyata kurangnya perhatian terhadap Tahun Hijriyah/bulan Qomariyah bukan saja menghilangkan salah satu identitas &#8216;simbol&#8217; agama tetapi juga mempengaruhi perhatian terhadap amal-amal yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW.</p>
<p>MENGHAPUS MITOS SEPUTAR MUHARROM<br />
Sudah menjadi &#8216;keyakinan&#8217; bagi masyarakat Indonesia Jawa khususnya bahwa bulan Muharrom adalah bulan kramat. Pada hari tanggal 1 misalnya, mereka menghentikan aktifitas aktifitas yang bersifat hajatan besar, menghindari perjalanan jauh, sebab hari itu mereka anggap sebagai hari naas atau sial. Bulan itu juga mereka takuti bagi pasangan yang hendak merencanakan pernikahan. Oleh karenanya mereka sangat menghindarinya dan memilih pernikahan dilaksanakan pada bulan-bulan lain. Pasalnya, pernikahan yang dilangsungkan pada bulan Muharram kerap mendatangkan sial bagi pasangan selanjutnya, seperti perceraian, kematian, tidak harmonis, dililit utang, dsb. Budaya ini sudah mengakar sebagai warisan nenek moyang kita. Kami tidak tahu secara pasti dari mana ini sumbernya, tetapi mungkin saja sebagai pengaruh asimilasi budaya Hindu dan Islam yang ketika berbaur memunculkan isme baru yaitu paham kejawen.<br />
Sementara itu dari luar Indonesia mitos ini juga dianut oleh aliran kepercayaan Bani Fathimiyah di Mesir. Demikian pula oleh kalangan syi&#8217;ah yang menganggap naas bulan ini karena dalam sejarah, Al-Husain Bin Ali RA wafat pada bulan tersebut. Mereka kemudian menjadikan bulan Muharrom sebagai bulan duka cita . Kami tidak tahu apakah para pembaca sekalian juga meyakini mitos semacam ini. Tetapi ketahuilah bahwa ini semua adalah batil, tidak sesuai dengan ajaran islam, bertentangan dengan Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah. Mengkambinghitamkan waktu sebagai penyebab kesialan suatu usaha, sesungguhnya sudah menjadi mitos bagi masyarakat arab di zaman Rasulullah. Mereka (orang-orang Arab di masa Rasul) sering berkumpul di waktu ashar untuk berbincang-bincang tentang berbagai hal dan terkadang dalam perbincangan mereka terlontar ucapan-ucapan yang mempersalahkan waktu sebagai penyebab kesialan usaha mereka. Waktu sial, demikian mereka ucapkan ketika urusan/usahanya gagal atau waktu mujur ketika usahanya berhasil. Sehingga mereka menghindari waktu-waktu tertentu yang mereka anggap waktu sial tersebut dari melakukan aktifitas yang semestinya. Terhadap mitos inilah maka Allah SWT menegaskan bahwa apa yang mereka yakini tersebut tidak benar, artinya tidak ada waktu naas maupun waktu keberuntungan. Hasil dari sebuah aktifitas adalah tergantung dari usahanya (dengan izin Allah). Semua berjalan mengikuti hukum Allah / sunnatullah. Untuk itulah Allah SWT berfirman : &#8216;Demi waktu (&#8216;Ashar). Sesungguhnya manusia tetap berada dalam kerugian. Kecuali orang &#8211; orang yang beriman dan beramal shalih dan saling menasehati atas kebenaran dan atas kesabaran &#8216; . (QS Al- &#8216;Ashr : 1-3).<br />
Melalui surah ini maka Allah bersumpah demi waktu (ashar) untuk membantah anggapan mereka itu dan menegaskan bahwa tidak ada yang namanya waktu sial atau waktu mujur, semua waktu itu sama. Yang berpengaruh adalah kebaikan atau keburukan usaha seseorang dan inilah yang berperan dalam hasil akhir sebuah usaha. Manusia akan beruntung jika ia mengisi waktu-waktunya dengan penuh iman, amal shalih dan taushiyah terhadap hak dan kesabaran. Maka mereka yang tidak melakukan ini tidak mengisi waktu-waktunya dengan keempat kriteria tersebut pasti akan merugi. Apabila kita sekarang masih percaya terhadap mitos ini maupun mitos-mitos yang lainnya, bukankah pada sisi ini kita sama dengan atau mengikuti jejak mereka dulu, padahal islam telah datang dan menjelaskan yang haq. Jalan mana lagi yang hendak kita tempuh ? Semoga hal ini menjadi bahan renungan bagi kita semua untuk selanjutnya menghapuskan mitos ini dari keyakinan kita sehingga akidah kita bersih, murni tidak tercampur dengan hal &#8211; hal yang batil. Dalam Surah Al-Baqarah: 42, Allah berfirman: &#8216;Dan janganlah kau mencampuradukkan antara yang haq dan batil dan menyembunyikan yang haq padahal kamu mengetahuinya (telah memperoleh informasi)&#8217;.</p>
<p>BATILNYA MITOS ATAS BEBERAPA TINJAUAN<br />
Adanya mitos di masyarakat bahwa bulan muharrom sebagai bulan kramat terlebih pada tanggal 1 adalah batil baik ditinjau dari segi syariat ajaran islam, sejarah/sirah maupun secara rasional.</p>
<p>1. Tinjauan Syari&#8217;at<br />
Dari segi syari&#8217;at bulan muharrom adalah bulan yang utama dan termasuk dalam golongan 4 bulan hurum. Disunnahkan untuk melakukan amal-amal sholih. Pada tanggal 9 (yaum tasu&#8217;a') dan lebih diutamakan- 10 (yaum &#8216;asyuro&#8217;) disunnahkan puasa. Sedangkan yang dilarang oleh syariat adalah melakukan peperangan kecuali apabila ummat Islam diperangi dan perbuatan-perbuatan mendholimi diri sendiri. Tidak ada larangan melakukan aktifitas yang mubah apalagi bernuansa ibadah.</p>
<p>2. Tinjauan Sejarah<br />
Pada bulan ini pula tepatnya tanggal 10 Nabi Musa AS selamat dari kejaran tentara Fir&#8217;aun. Konon, Nabi Nuh AS selamat dari banjir bersama kaumnya dan Nabi Yunus AS keluar (selamat) dari perut ikan hiu juga terjadi pada bulan ini. Jadi semua kisah ini menuturkan kisah-kisah suka-cita bukan duka cita. Karena pada bulan ini mereka mendapatkan anugerah yang sangat tinggi wajarlah jika kemudian kaum muslimin mensyukurinya dengan amal-amal sholih yang kemudian pada tanggal 10 Muharrom ummat Islam disunnahkan berpuasa. Adapun disunnahkannya berpuasa pada hari itu dalam latarbelakangnya adalah peristiwa pertama di atas (Nabi Musa red). Ketika Rasulullah kembali ke Madinah, Beliau mendapatkan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari &#8216;Asyura&#8217;. Maka beliau bertanya kepada mereka Hari apa ini yang kalian sekarang sedang berpuasa ?Maka mereka menjawab Hari ini adalah hari yang agung di mana Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa bersama kaumnya serta menenggelamkan Fir&#8217;aun dan kaumnya maka Nabi Musa berpuasa pada hari itu untuk menyukurinya, kemudian kami mengikutinya. Maka Rasulullah bersabda Kami lebih berhak dan lebih utama terhadap Musa dari pada kalian Kemudian beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa pula (Hadits Shohih riwayat Bukhori Muslim dari Ibnu Abbas sebagaimana dikutip dalam Irsyadul Ibad hal. 48-49 juga dalam Hadyul Islam jilid I Hal. 504-505. Sedangkan Al-Albani memasukkannya dalam kumpulan hadits dhaifnya, wallohu a&#8217;lam).</p>
<p>3. Tinjauan Produktifitas Amal<br />
Secara rasional, tidak dipergunakannya sebuah hari lebih-lebih sebulan untuk melakukan aktifitas sebagaimana layaknya, tentu akan mengurangi produktifitas kerja atau amal. Ketika pada hari itu semestinya bisa dimanfaatkan misalnya untuk melakukan perjalanan pulang kampung, atau berangkat ke tempat kerja/pendidikan atau untuk silaturrahim atau hal-hal lain yang sangat bermanfaat maka semuanya harus ditunda besok harinya atau harus buru-buru dilakukan sehari sebelumnya. Masyarakat cenderung memahami sial/na&#8217;asnya suatu usaha hanya pada masalah-masalah duniawiyah. Takut kecelakaan, takut bangkrut, takut miskin dan takut mati. Ini menunjukkan bahwa orientasi kerja mereka hanya semata-mata hasil yang bagus sementara mereka tidak siap untuk menerima kerugian apalagi sampai pada tingkat kematian karena mereka memang tidak cukup bekal amal untuk itu. Padahal semua manusia pasti mengalaminya. Dan yang jelas waktunya tidak mesti pada bulan muharrom melainkan di semua bulan tersebut manusia bisa mendapatkan keberuntungan maupun kerugian. Tidak ada satu pun penelelitian yang menghasilkan data bahwa pada bulan muharrom angka kecelakaan meningkat, ratio kematian paling tinggi, kasus perceraian paling banyak, dsb. Apakah dengan menghindari bulan ini dari melakukan aktifitas tertentu lantas dijamin bebas dari masalah ? Tentu tidak jawabannya, sekali lagi semua tergantung dari usahanya bukan waktu na&#8217;as/mujurnya.</p>
<p>Saudaraku, Sebagai renungan dalam momen tahun baru ini marilah kita muhasabah kembali segala apa yang telah kita lakukan pada tahun kemarin terutama jika pada tahun lalu kita masih memiliki mitos sebagaimana diatas, maka mulai tahun ini marilah kita buang jauh-jauh itu semua sebagai bentuk komitmen kita untuk selalu melakukan perbaikan demi perbaikan setiap saat terutama terhadap keimanan dan amal kita. Tahun ini harus lebih baik dari tahun kemarin. Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dan hendaknya setiap diri melakukan introspeksi terhadap apa yang telah lampau untuk (dilakukan perbaikan) di hari esok, Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kalian kerjakan (QS. 59: 18).  Wallahu a&#8217;lam bishowab. [JS] [Edisi cetak No.16/Thn-8/2008]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aladalah.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aladalah.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aladalah.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aladalah.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aladalah.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aladalah.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aladalah.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aladalah.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aladalah.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aladalah.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aladalah.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aladalah.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aladalah.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aladalah.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aladalah.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aladalah.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aladalah.wordpress.com&amp;blog=2701782&amp;post=4&amp;subd=aladalah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aladalah.wordpress.com/2008/02/03/tahun-baru-hijriah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a6a1607ec1e30d207c5310b51b58ae81?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">al &#039;adalah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aladalah.files.wordpress.com/2008/02/237.png" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
